Translate

Kamis, 08 Agustus 2013

Salah Kaprah tentang Mudik Lebaran

Dalam suasana Iedul Fitri, jutaan orang Indonesia yang mudik ke kampung halaman, menemui orang tua, kerabat dan teman semasa kecil dan remaja. Suasana suka cita menyelimuti keseharian pemudik, menutupi segala pengorbanan yang dikeluarkan untuk mudik. Sayangnya lebih banyak yang tampaknya hanya mudik secara fisik, tanpa makna untuk pengembangan diri secara hakiki.  Mudik cenderung  menjadi arena untuk unjuk sukses, pamer generousity dan atribut sukses lainnya.  Prilaku ironis ini menyertai ungkapan ‘maaf lahir dan bathin’ yang disampaikan secara santun dan elegan tanpa memahami makna yang sebenarnya. Mudik yang sebenarnya merupakan proses kembali ke fitrah seorang manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat untuk memperbaiki kualitas diri dan masyarakat. Yang terjadi malah mudik cenderung menyuburkan prilaku superioritas, hedonisme, materialisme dan rasionalisme. Mudah2an hal ini hanya sebuah prasangka yang keliru.
Masih banyak pemandangan yang menjauhkan manusia dari prilaku mudik secara yang sesungguhnya, misalnya ketidakberaturan dalam berlalulintas. Masih banyak yang justru menganggap bahwa dalam suasana mudik orang tak perlu mentataati lampu lalu lintas, masih banyak orang yang merasa sangat gagah bersepedamotor tanpa helm, masih sering kita temui melintasi jalan yang semestinya tidak boleh dilewati, masih banyak kita temui prilaku-prilaku lain di jalan raya yang mengagetkan kita sesama pengguna jalan raya. Prilaku di jalan raya adalah contoh kecil dari banyak hal yang terjadi dalam suasana iedul fitri yang mencerminkan bagaimana mudik, kembali ke fitrah, masih hanya sebatas slogan dan rutinitas. Di jalan raya semestinya tercermin suasana saling menghargai, saling menghormati antar sesama pengguna jalan raya. Di jalan raya semestinya tercermin juga prilaku kepatuhan terhadap aturan dan hukum. 
Sisi ironis suasana iedul fitri juga terjadi dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari kita. Banyak sesama pemudik justru berbagi kiat sukses bagaimana mensiasati aturan dan hokum yang ada. Banyak diantara mereka yang bangga dengan keberhasilan mengambil keuntungan dari situasi yang semestinya bukan milik mereka. Banyak juga sesama pemudik yang justru saling menghimbau untuk memaklumi semua ketidakberaturan yang terjadi di masyarakat dalam kehidupan berbangsa sebagai sesuatu yang tidak dapat diperbaiki.  Banyak juga para pemudik yang melakukan mudik dengan cara melindasi hak-hak orang lain, melalaikan kewajiban-kewajiban individunya.
Mudah-mudahan kita semua termasuk dalam orang-orang beruntung, mampu mudik ke arah yang sesungguhnya, ke fitrah sebagai seorang makhluk Allah dalam kesucian dan kekuatan untuk meningkatkan kualitas diri, kualitas anggota keluarga dan berkontribusi untuk meningklatkan kualitas masyarakat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar