Translate

Jumat, 26 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita ? : Gemar Mengaku Miskin.


Kemiskinan di negara kita mungkin juga disebabkan oleh proses pemiskinan yang dilakukan diri sendiri dan keluarga banyak masyarakat kita. Pemiskinan secara moral dan etika terhadap diri sendiri dan keluarga yang terus menerus dilakukan dalam tindakan konkrit sehari-hari akan berujung pada kemiskinan secara ekonomis dan secara sosial. Kita sering menemukan betapa masih banyaknya masyarakat  kita yang dengan sukarela dan ikhlas mengaku dirinya miskin agar mendapatkan kompensasi dari negara.
Sering kita melihat bagaimana orang yang mampu membeli bahan bakar bersubsidi. Sering kita menemukan bagai mana orang yang mampu secara ekonomis mengisi daftar isian dalam formulir tertentu dengan menyataakan dirinya tidak mampu. Sering kita melihat bagaimana masyarakat kita meminta diturunkan ukuran dan spesifikasi rumah dan pekarangannya agar pajak bumi dan bangunan yang harus dibayar menjadi rendah.  Sering kita melihat bagaimana jumlah pengemis di bulan suci ramadhan justru meningkat untuk mengeksploitasi semangat beribadah kaum muslimin.  Sering kita melihat bagaimana orang yang mampu memperoleh Bantuan Langsung Tunai, sekarang disebut Bantuan Langsung Sementara Masyarakat, dengan menutup kesempatan hak-hak kaum miskin yang tidak dapat bantuan.  Masih banyak lagi kegiatan mengaku miskin yang dilakukan masyarakat kita agar memperoleh keuntungan, baik dari orang lain, dari pihak lain, maupun dari negara.
Entah apa yang terlintas dalam benak kebanyakan masyarakat kita. Mengaku miskin untuk mendapatkan sesuatu secara ekonomis. Mentalitas demikian ternyata memang hanya dilakukan oleh orang-orang  yang miskin iman, miskin akhlak, miskin moral, miskin integritas. Orang yang suka mengaku miskin pasti usaha dan tindakannya juga kurang, semangatnya juga rendah, keyakinannya rendah, dan pasti juga do’anya rendah. Tuhan akan mengabulkan permintaan mereka untuk menjadi miskin, baik miskin akhlak, miskin moral, miskin integritas, dan miskin harta, dan menenggelamkannya dalam kemiskinan itu sendiri. Kemiskinan secara akhlak, moral dan integritas   jauh lebih sulit diselesaikan dibandingkan dengan miskin secara ekonomis. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar