Translate

Jumat, 19 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita ? : Membeli Amanah (2)


Fenomena lain yang sering terjadi dalam masyarakat kita terkait jual beli amanah sejak masa reformasi ini adalah dalam kegiatan penerimaan calon pegawai negeri sipil dan promosi jabatan yang terjadi di banyak kabupaten dan propinsi di Indonesia.  Seperti halnya dengan korupsi, modus yang terjadi tidak ubahnya seperti kentut yang berbau, bentuknya tidak dapat dilihat, tapi baunya mengganggu orang di sekitarnya. Kalau tidak ada orang yang mengaku melakukannya, atau mendengar langsung secara dekat suara letupannya, maka akan sangat sulit untuk mengetahui siapa pelakunya.  Entah apa yang terlintas dalam  benak banyak masyarakat kita.  Menjadi abdi masyarakat kok harus dan mau membayar. Memiliki tanggungjawab lebih besar dalam pekerjaan di kantor, kok harus dan mau membayar.
Yang  terjadi saat ini justru sudah jauh lebih parah dari sekedar jual beli. Lalu munculah pihak ketiga, yang mengaku sebagai penghubung, yang sebenarnya mungkin saja seorang penghubung yang sesungguhnya, tetapi juga dapat saja merupakan sebagai calo atau orang yang mengaku-ngaku dapat membantu para calan pegawai yang sedang galau, atau pada para pegawai yang syahwatnya untuk promosi atau berkuasa sedang birahi.  Kehadiran para penghubung atau para calo ini memanfaaatkan kegalauan dan ketidakpercayaan calon pegawai pada sistem rekruimen yang ada.  Para calo ini juga memanfaatkan ketidaksabaran dan kekurangpercayaan diri para pegawai untuk promosi jabatan.     
Semua pihak yang terlibat dalam fenomena ini semestinya menyadari dan tidak melakukannya lagi, karena semua transaksi jual beli amanah tadi pada akhirnya akan dibayar oleh masyarakat banyak.  Masyarakat akan mendapatkan pelanyana nyang seadanya, dan bahkan tidak mungkin masyarakat akan kehilangan hak-hak untuk menikmati pembangunannya karena pembiyaannya sudah digunakan untuk membayar transaksi amanah yang dilakukan sebelumnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar