Translate

Jumat, 19 Oktober 2012

Tawuran dan Anarkisme : Kegagalan Pembelajaran


Tawuran, brutalisme dan anarkisme yang kerap dilakukan lagi oleh pelajar dan mahasiswa akhir-akhir ini sebenarnya mencerminkan kegagalan pembelajaran yang dilakukan sekolah dan kampus. Tidak sedikit korban kawuran, brutalisme dan anarkisme tersebut jika dihitung secara ekonomis, apalagi kalau dihitung secara sosisal.  VIsi Indonesia 2045 terancam gagal tercapai, karena Indonesia akan kekurangan orang-orang yang mampu berkompetisi secara global pada saat itu, karena mereka pada saat ini sibuk tawuran, sibutk berbuat brutal dan anarkis yang mendegradasi kemampuan berfikir kritis dan rasa ke-Indonesia-an.
 
Pembelajaran yang terjadi sekarang di bangku sekolah atau di kampus mungkin sudah sukses dan berhasil mencerdaskan pelajar dan mahasiswa secara kognitif, tetapi gagal mencerdaskan mereka secara sosial, apalagi secara spiritual. Para pelajar dan mahasiswa mungkin sudah tahu apa yang baik dan apa yang jelek. Mereka juga sudah sangat tahu mana yang benar dan mana yang salah.  Pengetahuan yang dimiliki hanya menjadi pengetahuan, tetapi tidak mampu menggetarkan hati mereka untuk mengendalikan nafsu dan amarah yang muncul. Pengetahuan tinggal pengetahuan yang tidak mampu diekspresikan dalam tindakan sehari-hari.
Meskipun ekspresi pelajar dan mahasiswa dalam kesehariannya merupakan resultante dari berbagai dimensi, sekolah dan kampus harus mampu mewarnai prilaku peserta belajarnya.  Sekolah dan kampus harus mampu mengintegrasikan pendidikan karakter (jujur, peduli, cerdas, dan tangguh) ke dalam proses pembelajarannya. Fasilitator (guru dan dosen) harus mampu menjadi teladan, harus mampu memberikan inspirasi bagi peserta belajarnya dalam bertindak, harus mampu menunjukkan kesesuaian pengetahuan dengan tindakan.  Fasilitator harus sabar, ikhlas dan rela memfasilitasi proses pembelajaran di sekolah dan di kampus, agar peserta belajar merasakan bagaimna kekuatan sabar, iklas, dan rela memang merupakan sesuatu yang enak untuk dimiliki dan dinikmati. Sekolah dan kampus harus mampu memberikan suasana belajar dan suasana akademik serta koridor akademik yang mendorong pejalar dan mahasiswa untuk berprestasi secara mandiri.   
Masih banyak yang memang harus sengaja dirancang oleh pemerintah dan masyarakat agar pelajar dan mahasiswa kita tidak kecanduan tawuran, berbuat brutal, dan anarkis. Keluarga merupakan unit terkecil dimana nilai-nilai afektif dapat ditanamkan sejak dini.  Mari kita mulai dengan keluarga kita. Jangan diserahkan sepenuhnya sekolah dan kampus memformat kepribadian anak-anak kita. Lebih jauh lagi, jangan biarkan anak-anak kita mencontoh tawuran, aksi brutal dan aksi anarkis yang sengaja dipertontonkan oleh media kita secara vulgar. (zie).

1 komentar:

  1. Ada banyak hal yang harus kito tinjau ulang. salah satunyo : Ketaqwaan kepada tuhan yang maha esa seharusnya bukan hanya dijadikan simbol-simbol dalam setiap aturan namun harus dibuktikan, Mulai dari taqwa itu sendiri yang artinyo kurang lebih taat pada perintah tuhan dan tidak maksiat terhadapa perintah tuhan.

    Bagaimana bisa bangsa ini akan bermoral ketika surau - surau sudah mati yang ikut taklim dan mengaji dapat dihitung dengan jari. tersusun dari yang tua hingga anak-anak.

    Darimana seharusnya kita bangkit kalau bukan dari surau. Tapi kini hanya terdengar Alif, Baa, dan Yaa dari surau, surau hanya dijadikan tempat melakukan ritual-ritual yang banyak tak dipahami oleh pelakunya.

    Bukan hanya surau biasa bahkan surau kampuspun begitu, surau kapus biasa terkendala dipendanaan, apakah kampus hanya menjadi pusat kognitif yang melupakan fungsi surau.

    Mata kuliah agama cuma 3 sks, 2 SKS teori 1 sks praktikum, 1 sks praktikum pun tidak jelas kemana muaranya hanya lenyap ditelan waaktu. 2 sks kuliah karena dosen pengampunya sibuk dengan urusan lainnya jadi sering ditinggalkan.

    satu solusi ditawarkan untuk mengisi 1 praktikum yang lenyap dari surau dihadang dengan aturan mahasiswa tak bisa mengajari mahasiswa. sedang 2 sks lagi tidak jelas teori apa yang diajarkan, cukup dengan beli buku sudah keluar "A". tak jarang mahasiswa tak kenal huruf alaiif jika sudah bersatu dengan huruf lainnya.

    Matinya surau Kampus bernama Darul Ulum dan Shelter.
    Aben Candra (E1J010070)

    BalasHapus