Translate

Jumat, 09 Agustus 2013

Waspadai Pelecehan Al-Qur’an melalui Perangkat Komunikasi


Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi informasi mempermudah kehidupan manusia dalam kesehariannya.  Hampir semua urusan dan kebutuhan, apalagi informasi dan ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat. Tidak hanya itu, bahkan mengaksesnyapun sudah tidak menggantungkan pada ruang dan waktu tertentu. Ironi pemanfaatan kemajuan teknologi informasi ini juga terjadi, salah satunya, dalam bagaimana masyarakat belajar, membaca, mendengarkan dan memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an.  
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perangkat komunikasi saat ini, apakah telepon genggam, komputer (PC, netbook dan Laptop), atau smart phone dengan berbagai merek dagang dapat dilengkapi dengan fasilitas menyimpan Al-Qur’an secara utuh.  Bahkan berbagai peralatan tersebut dapat digunakan untuk mengakses situs tertentu agar seseorang dapat belajar, membaca, dan mendengarkan Al-Qur’an.  Seseorang dapat dengan mudah melakukannya, kapanpun dan dimanapun.   Ruang dan waktu bukan menjadi hambatan bagi seseorang lagi, yang penting ada kemauan untuk belajar, membaca, mendengarkan dan memahaminya.  Namun demikian,  justru dengan kemudahan seperti inilah aspek etika dan adab memperlakukan kitab suci menjadi sesuatu yang harus dipertanyakan. 

Kamis, 08 Agustus 2013

Salah Kaprah tentang Mudik Lebaran

Dalam suasana Iedul Fitri, jutaan orang Indonesia yang mudik ke kampung halaman, menemui orang tua, kerabat dan teman semasa kecil dan remaja. Suasana suka cita menyelimuti keseharian pemudik, menutupi segala pengorbanan yang dikeluarkan untuk mudik. Sayangnya lebih banyak yang tampaknya hanya mudik secara fisik, tanpa makna untuk pengembangan diri secara hakiki.  Mudik cenderung  menjadi arena untuk unjuk sukses, pamer generousity dan atribut sukses lainnya.  Prilaku ironis ini menyertai ungkapan ‘maaf lahir dan bathin’ yang disampaikan secara santun dan elegan tanpa memahami makna yang sebenarnya. Mudik yang sebenarnya merupakan proses kembali ke fitrah seorang manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat untuk memperbaiki kualitas diri dan masyarakat. Yang terjadi malah mudik cenderung menyuburkan prilaku superioritas, hedonisme, materialisme dan rasionalisme. Mudah2an hal ini hanya sebuah prasangka yang keliru.