Translate

Jumat, 15 Maret 2013

Kebijakan Pertanian yang Salah. Penyebab Harga Bawang Melambung


Kembali Indonesia dihadapi pada mahalnya harga bawang merah dan bawang putih. Lagi-lagi dikaitkan dengan impor. Data dari Kementrian Pertanian menunjukkan bahwa nilai impor bawang putih segar Indonesia pada tahun 2011 saaja mencapai USD 272,6 juta, lalu diikuti dengan bawang merah segar senilai USD 75,5 juta, dan bawang Bombay segar sebesar USD 32,1 juta.  Kecenderungan Indonesia untuk mengimpor banyak komoditas pertanian sebenarnya tidak terkait pada kemampuan petani untuk menghasilkannya. Secara teknologi petani Indonesia sangat menguasai bagaimana memproduksi bawang, jagung, kedele, padi, cabe, pisang.  Dan bahkana secara agroekologis produksi tanaman tersebut sangat mungkin untuk dilakukan.  Kalau tanaman yang memang secara agroekologis tidak mungkin atau sulit tumbuh di Indonesia masih diimpor, hal itu sangat dapat dimaklumi.  Tetapi mengimpor beberapa jenis tanaman pangan dan hortikultura yang disebutkan tadi, pasti bukan disebabkan oleh alasan agroekologis, ataupun oleh alasan ketidakmampuan petani dalam  menghasilkan komoditas tersebut.  Penyebabnya adalah kesalahan manajemen atau kebijakan impor produk-produk tersebut, dan ketidakseriusan pemerintah dalam menciptakan rantai agribisnis komoditas tersebut.

Kebijakan impor dengan penetapan kuota impor sudah ada, tetapi jumlah impor komoditas  tersebut jauh di atas kuota yang telah ditetapkan. Padahal penetapan kuota impor salah satunya merupakan kebijakan untuk menjaga penyerapan pasar terhadap produk dalam negeri, sehingga petani tetap bergairah untuk memproduksi komoditas-komoditas tersebut.  Pengawasan terhadap pemberian izin impro lalu lintas produk impor pasti sangat lemah. Terlalu banyak alasan yang dikemukakan untuk mencari pembenaran pada ketidakmampuan menekan lalu lintas penyelundupan. 
Sisi lain tidak mampunyai komoditas lokal untuk bersaing dengan produk impor juga disebabkan karena kurangnya kebijakan pertanian yang konsisten berpihak pada pemberdayaaan petani. Secara konsep sudah banyak didengungkan dan disampaikan oleh penmerintah atau perguruan tinggi, tetapi konsep hanya tinggal konsep, tidak pernah menacapai sukses yang berkelanjutan. Program-program yang bersifat pencitraan hanya dapat memberikan manfaat sesaat. Contoh jelas adalah bagaimana provinsi Gorontalo hanya menjadi produsen dan eksportir jagung selama tiga atau empat tahun, lalu hilang tak berkelanjutan, karena programnya hanya bersifat pencitraan.  Petani juga tidak berdaya berurusan dengan kencenderungan masyarakat yang secara konsisten bersikap koruptif.   
Impor komoditas pertanian yang secara agroekologis cocok untuk ditumbuhkembangkan di Indonesia semestinya tidak terjadi, jika kebijakan impor diimplementasikan dengan baik, keberpihakan pemerintah kepada petani terjamin dan berkelanjutan, dan mentalitas koruptif tidak berkembang di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar