Translate

Rabu, 27 Maret 2013

Beberapa kekeliruan penanaman nilai kehidupan terhadap anak-anak


Sering kita melihat di jalanan, bagaimana orang tua dengan tenangnya melanggar lampu lalu lintas saat membawa anaknya berkendaraan. Pengendara sepeda motor lebih banyak melakukannya dibanding pengendara kendaraan roda empat. Dalam kesempatan lain, kita sering juga melihat bagai mana orang tua dengan enaknya menghardik dan memarahi sesuatu secara berlebihan di depan anak-anaknya ketika tidak puas atau merasa dilecehkan orang lain. Pernah kita mendengar bagaimana orang tua mendorong agar anaknya merasa berprestasi dengan cara ikut merekayasa prestasi tersebut dengan sepengetahuan anaknya. Masih banyak lagi kekeliruan yang dilakukan orang tua di hadapan anak-anaknya, dan lebih celaka lagi banyak yang memang secara sengaja dilakukan tanpa ada perasaan malu.
Sering juga kita melihat bagaimana guru-guru di sekolah dasar berbaris menunggui murid-muridnya datang di halaman sekolah. Ironisnya mereka menyalami murid-muridnya sambil ngobrol, sambil baca koran pagi, sambil sms-an, sambil menelpon tanpa melihat apalagi menatap mata murid-muridnya. Bersalaman menjadi rutinitas, tanpa makna. Murid-murid juga tahu kalau hal tersebut merupakan sesuatu yang harus dilewati agar sampai ke ruangan kelas.  
Sering juga kita mendengar bagaimana siswa-siswa diminta untuk mengsukseskan ujian nasional. Siswa harus sukses, hanya karena karena ujian nasional harus sukses, kepala daerah harus sukses, kepala dinas harus sukses, kepala sekolah harus sukses, guru bidang studi harus sukses.   Siswa diminta untuk mengikuti arahan dari guru dengan berbagai upaya, non akademis tentunya, agar tingkat kelulusan tinggi.  Sering juga kita mendengar bahwa anilai kelulusan ujian nasional adalah nilai  yanga sudah dinormalkan, didongkrak agar standar kelulusan tercapai. Menyedihkan memang.  Bukannya fokus pada upaya memperbaiki proses pendidikan agar murid-muridnya mampu lulus ujian dengan baik, tetapi berlomba-lomba mendorong agar hasil ujian nasional ‘berhasil’ dan ‘sukses’, sehingga semuanya happy.
Hal tersebut di atas hanya beberapa contoh ssuasana dimana anak-anak sejak kecil sudah diajarkan untuk mensiasati aturan (dengan menerobos lampu merah), diajarkan untuk tidak bersabar dan tidak mencoba memahami orang lain (dengan marah-marah tak terkendali), diajarkan bagaimana meraih prestasi dengan nepotisme.  Sekolah sebagai lembaga yanag berperan dalam pembentukan karakter dasar anak-anak juga memberikan pelajaran tentang lakukan rutinitas (dengan salaman tanpa ada kontak mata dan tegur sapa). Sekolah juga mengajarkan tentang ketidakjujuran dan meriah sukses dengan instan tanpa usaha (melalui rekayasa ssukse unjian nasional).
Mungkin masih banyak lagi contoh yang benar-benar terjadi dalam masyarakat kita. Tidak heran jika anak-anak yang melewati model tempaan seperti itu akan tumbuh menjadi remaja yang tidak taat hukum dan aturan, tidak menghargai orang lain, tidak berempati, dan tidak jujur.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar