Translate

Minggu, 04 November 2012

Mencegah Dampak Pornografi Internet pada Anak-Anak


Banyak orang tua yang kian merasakan dilema dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Kesibukan kerja dan tuntutan beprestasi kadang membuat orang tua menjadi galau terhadap kegiatan anak-anaknya selama berada di luar pengawasannya. Anak-anak sekarang mau tidak mau harus berinteraksi dengan dunia maya, internet. Ketersediaan  informasi di internet memang merupakan sumber pengetahuan yang luar biasa dan mampu membuat orang jadi pintar, tetapi ancaman dari dunia maya juga tersedia nyata, baik berupa ancaman pornografi, doktrinisasi, dan bahkan kejahatan lainnya. Tulisan ini hanya memberikan beberapa kiat yang mungkin dapat bermanfaat untuk mencegah ketergantungan anak pada pornografi di internet.  
1.     Sampaikan secara gamblang kepada anak tentang kemungkinan dan potensi yang akan terjadi sebagai akibat berinteraksi dengan internet. Gunakan kata-kata yang dapat mengerti. Jangan menyampaikan hal-hal yang bersifat menakut-nakuti, apalagi takhayul. Gunakan fakta ilmiah tentang dampak buruk bagi perkembangan emosi, jiwa, serta akibat sosial jika anak menjadi rusak karena salah memanfaatkan teknologi internet. Gambarkan juga dampak yang akan terjadi pada diri anak jika kecanduan pornografi. Katakan kepada anak bahwa pornografi membuat anak menjadi malas, sehingga menurunkan prestasi belajar. Prestasi belajar menurun akan mempengaruhi keberhasilan sekolah dan kuliahnya. Sampaikan bahwa jika tidak sukses dalam seekolah dan kuliah, dan kecanduan pornografi, hampir dapat pasti mereka akan sulit mendapatkan pekerjaan, mereka akan sulit hidup karena tidak punya uang. Tidak hanya itu, sampaikan juga bahwa kalau berinteraksi dengan pornografi dapat berujung di penjara. Sampaikan juga kemungkinan ada orang yang akan membuat mereka menjadi tergantung secara emosi lalu mengikuti semua skenario jahat dari orang yang tak dikenal tersebut.

2.  Lebih baik punya akses internet di rumah, dari pada membiarkan anak mengakses internet dari gadgetnya, atau memberikan waktu tertentu ke warnet. Akses internet di rumah harus dibuat seterbuka mungkin, dimana kita dapat melihatnya dengan mudah. Tidak perlu meng-upgrade kemampuan jelajah komputer sesuai dengan kebutuhan anak untuk bermain games dan mencari informasi yang bermanfaat.  Yang penting, akses ada di rumah, tetapi tidak membuat anak sangat nyaman memanfaatkannya.
3.   Alihkan perhatian anak ke hal-hal yang bersifat fisik, misalkan didorong untuk ikut olah raga yang diminatinya. Kenalkan atlit-atlit yang berprestasi dalam bidang olah raga yang diminati anak. Tumbuhkan semangat berprestasi sepertihalnya atlit-atlit yang terkenal tersebut.  Mengalihkan perhatian anak secara fisik juga dapat diajak dengan mengajaknya ke pantai  untuk mandi bersama, mengajaknya ke kolam renang.   Ajak anak untuk hiking singkat di sekitar rumah, atau di taman-taman. Ajak anak-anak bersepeda cross country melintasi sawah dan perkebunan. Masih banyak lagi pengalihan secara fisik yang dapat dilakukan.  
4.       Dorong agar anak membuat kebanggaan lain yang tidak berbasis internet, misalkan dorong ia menjadi orang yang jago ngaji, jago debat bahasa inggris, jago scrabble. Kebanggaan juga dapat ditumbuhkan dengan mengajak anak untuk membuat mainan secara tradisional yang sudah semakin sulit untuk diperolehnya saat ini.
5.  Dan yang paling penting adalah ciptakan komunikasi yang baik dengan anak. Dorong agar anak menyampaikan apa yang menjadi pertanyaan dan kegalauannya disampaikan kepada kita sebagai orang tuanya.  Jadi pendengar yang baik, bangun kepercayaannya bahwa apa yang disampaikannya akan menjadi rahasia yang tidak perlu diceritakan kepada tantenya, kepada nenknya, kepada sepupunya, apalagi kepada teman-teman dan guru-gurunya.  Jangan menghakimi, apalagi membodohinya, karena dengan demikian anak akan mengenyampingkan kita sebagai tempat mengadu.  Jangan biarkan anak mencari orang lain untuk mengadu dan berkeluh kesah. Apalagi membiarkan anak untuk menuliskan apapun yang dirasakannya di status media sosialnya (facebook, twitter, bbm dll). Kalau ini terjadi, kita sudah kehilangan anak sebenarnya, kita hanya membiayai dan membesarkannya secara fisik, sementara cinta dan kasih saying, serta kepercayaannya diberikan kepada orang lain yang bias saja seorang penjahat.

4 komentar:

  1. Betul banget sob harus sejak dini kita terapkan,sip artikelnya.

    BalasHapus
  2. Tukar link yuk gan..bagus banget isi artikelnya.

    BalasHapus
  3. Benar sekali gan harus diawasin kalau perlu.

    BalasHapus
  4. Ide lama sih... Tapi saling mengingatkan untuk kebaikan bersama....

    BalasHapus