Translate

Senin, 16 April 2012

Leader or follower?

Kerja dan bekerja merupakan bagian yang harus dijalani dalam kehidupan agar hidup tidak membosankan dan terasa dinamis.  Dalam komunitas kerja di kantor atau dalam suatu organisasi, semua orang mempunyai peran dan tugas yang secara signifikan menentukan kinerja organisasi.  Meskipun demikian, tetap saja akan muncul sosok kampium atau orang yang berbakat untuk menjadi pemimpin.  Salah satu reaksi seorang calon pemimpin terhadap kebijakan baru pimpinannya adalah mempertimbangkan kebijakan baru tersebut, sambil menjalankannya (mungkin mencobanya) dan berusaha untuk memperbaikinya agar kebijakan pimpinan tersebut dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas  organisasi.  Kalaupun harus menyampaikan tentang ketidaksesuaian kebijakan tersebut dengan tujuan organisasi, hal tersebut pasti akan disampaikan dengan baik-baik, pada waktu dan cara yang tepat.  Dia adalah calon pemimpin !, a potential leader!.

Seorang follower, sebaliknya akan menerima kebijakan baru pimpinan dengan total dan penuh kepatuhan, yang penting menjalankan tugas sesuai dengan tanggungjawabnya.  Resiko kegagalan kebijakan adalah urusan pimpinan. Reaksi seoraang follower lainnya adalah menolak mentah-mentah kebijakan baru organisasi, baik dengan mogok, mengancam atau memprovokasi pekerja lainnya secara terbuka.  Padahal, sikap ini sebenarnya hanya sikap konpensasi terhadap ketidakmampuannya dalam menyesuaikan diri dengan kebijakan organisasi.   Bagi seeorang follower, suatu kebijakan hanya akan diterima bulat-bulat atau ditolak secara sepihak tanpa berusaha untuk memahami esesnsi kebijakan tersebut.  

Coba tanyakan ke diri sendiri bagaimana anda merespons kebijakan baru pimpinan.  Anda akan tahu nanti, apakah anda seorang calon pimpinan, atau memang seorang follower, seorang buruh atau pekerja biasa !.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar