Translate

Jumat, 02 Desember 2011

Wajah Koruptor

Tulisan pendek ini bukan untuk para Koruptor, tetapi untuk orang-orang yang sudah muak melihat koruptor di negeri ini. Indonesia menduduki peringkat 100 terkorup dari 188 negara di dunia ini (Republika, 2 Desember 2011). Tulisan ini mengajak anda semua untuk membayangkan wajah picik, wajah rakus, wajah tak berprikemanusiaan, wajah penuh tipu muslihat, wajah munafik, wajah sok alim, wajah pinter nyiasat aturan, wajah menganggap remeh hukum dan orang lain dan berbagai wajah lain dari sang koruptor. Bagaimana perasaan anda melihatnya wajah-wajah tersebut? Jijik? Sebel? Muak? Kesal? Gemes untuk ditonjok? Kasihan? Mungkin anda punya sejuta perasaan ketika melihat mereka di koran, di televisi, atau ketemu langsung secara nggak sengaja? Bagaimana perasaan anda ketika melihat wajah pasangan dan wajah anak-anak para koruptor? Mungkin Jijik? Sebel? Muak? Kesal? Gemes untuk ditonjok? Kasihan? atau ada perasaan lain yang muncul. 

Sejijik apapun anda melihat koruptor, jangan merasa jijik terhadap anak-anaknya. Apalagi sampai membencinya. Mereka hanyalah anak-anak. Orangtuanya yang lupa kalau anak-anak tidak boleh dibesarkan dengan hasil korupsi.  Koruptor jadi lupa, kalau prilaku mereka membuat cara pandang orang terhadap anak-anaknya menjadi jelek. Prilaku mereka membuat anak-anaknya dikutuk masyarakat. Prilaku koruptor membuat anak-anak mereka kehilangan kehormatan, kehilangan harga diri, kehinganan kesempatan, kehilangan rejeki, kehilangan keceriaan, kehilangan kesempatan untuk menikmati masa anak dan masa remaja atau masa mudanya.  

Jika anda kebetulan seorang koruptor membaca tulisan ini, masih mampukah anda membayangkan bagaimana orang lain melihat wajah anda? Masih mampukah anda kerkilah dan melakukan pembenaran terhadap prilaku anda? Terbayangkah bagai mana cara orang lain melihat dan memandang pasangan dan anak-anak anda?. Kalau memang ternyata anda tidak punya perasaan malu, perasaan bersalah sedikitpun, anda memang koruptor sejati yang memang pantas untuk dihukum mati di negeri ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar