Translate

Kamis, 08 Mei 2014

Lima Cara untuk Tidak Balas Dendam


Menurut pengakuan beberapa teman, perasaan dilecehkan, perasaan dihina, apalagi difitnah, lalu mengakibatkan kerugian secara moril maupun materil, ternyata sulit untuk dihilangkan begitu saja. Meski sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk tidak mengingatnya, selalu saja muncul seketika, kadang-kadang pada saat yang tidak diduga. Munculnya ingatan kesal dan pedih secara mendadak ini dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain, karena ekspresi penyalurannya untuk menghilangkan perasaan dilecehkan, dihina atau difitnah cenderung membabi buta dan melibatkan apa saja yang ada di sekitarnya. Ada gelas, dapat saja gelas tersebut ditepis atau dibanting. Ada pengendara lain, dpat saja mereka dihardik atau diklakson. Apa saja situasi yang kurang berkenan yang ada pada saat munculnya perasaaan terleceh, terhina, dan terfitnah akan segera ditangkap dan dijadikan sasaran pelampiasan. Kadang-kadang persoalan sepele dapat menjadi besar. Padahal sesungguhnya bukan persoalan yang sedang muncul yang menjadi pendorong untuk marah, tetapi sebenarnya perasaan  terleceh, terhina, dan terfitnah yang menjadi pemicu.  Melakukan pembalasan terhadap orang yang melecehkan mungkin saja dapat menghilangkan perasaan-perasaaan tersebut. Tetapi hal ini sebenarnya justru merupakan tindakan pelecehan terhadap diri sendiri.  Tidak ada jaminan bahwa membalas dendam akan menghilangkan perasaan terleceh, terhina, dan terfitnah tersebut. Jangan-jangan malah akan memunculkan persoalan baru yang lebih parah dan tak terkendali.  Intinya, tidak ada perlunya untuk membalas dendam. Kebenaran akan terkuak. Waktu akan membuka semua kebenaran perlahan-lahan. Merasa sakit dan pedih merupakan respon manusiawi. Suatu saat, orang akan datang menyangkali apa yang mereka yakini, dan meminta maaf.

Kalau kita percaya bahwa waktu dapat menyembuhkan perasaan terleceh, terhina dan terfitnah, mungkin ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, jika perasaan sakit, pedih dan kecewa tiba-tiba muncul, segeralah beristighfar atau menyebut nama Allah, agar dijauhkan dari sifat pendendam.  Ke-dua, jika masih terasa sakit menyesakkan dada, wudhu dan shalat.  Ke-tiga, cari kesibukan baru yang menantang. Atau paling tidak baca buku edisi baru pada topik atau pengarang favorit anda.  Energi yang harus dikeluarkan seseorang untuk memastikan ‘proyek’ barunya berjalan lancar cukup untuk melupakan kepedihan hati. Ke-empat, bersedakah atau membantu orang-orang yang membutuhkan. Apa saja yang dapat disedekahkan. Nikmati dan dapatkan kenikmatan yang tak terduga dari bersedakah. Ke-lima, jangan berusaha untuk membuktikan kalau anda benar. Kebenaran akan datang sendirinya, seiring dengan waktu yang merontokkan fitnah. Memang susah untuk  tidak membela diri, tapi yakinlah dibalik perasaan terleceh, terhina dan terfitnah ada hikmah yang tidak kita bayangkan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar