Translate

Kamis, 17 April 2014

Catatan untuk Presiden Indonesia 2014-2019 : Indonesia bukan hanya Pulau Jawa



Pemilihan anggota legistlatif Indonesia baru sudah selesai. Terlepas dari duka mendalam dari para calon anggota legislatif yang gagal mewujudkan impian dan seleranya, justru media massa disibukkan dengan upaya membentuk opini sosok Calon Presiden RI mendatang. Dan bahkan lebih menggelikan, media massa menggiring, seolah-olah yang perlu dicari sekarang adalah siapa Cawapres yang cocok.  Bahkan pembentukan opini juga dilakukan dengan mengkaitkan ramalan dari zaman Majapahit atau Zaman Mataram. Pembodohan superstisius seperti ini justru dilakukan oleh orang-orang yang mengaku berpendidikan dan sangat rasional dalam memahami persoalan kebangsaan. Menyedihkan, memprediksi sosok pemimpin Negara dilakukan dengan menggunakan ramalan-ramalan tersebut. 

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia secara makro mengalami peningkatan, tetapi yang menikmati pertumbuhan tersebut tidak merata. Bahkan lebih mungkin lagi, pertumbuhan ekonomi yang dicapai tersebut, terjadi bukan karena intervensi dan kebijakan pemerintah, tetapi karena keberuntungan Indonesia dalam percaturan global. Artinya pertumbuhan itu terjadi sebagai akibat konsekuensi global saja. Lebih cocok lagi, an autopilot growth !. Setelah lebih dari 65 tahun Indonesia merdeka, kepincangan secara ekonomis dan dan sosial antar wilayah masih sangat terasa. Pemerintah lebih suka mempermainkan data-data yang bersifat rerata Indonesia yang kontribusi angka tersebut berasal dari segelintir orang dari kawasan tertentu saja. 

Yang terjadi sekarang, pemerintah lebih memperhatikan pembangunan di pulau Jawa. Lihat saja berapa banyak anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk pulau Jawa dibanding total anggaran pembangunan Indonesia per tahun.  Alokasi anggaran berbasiskan jumlah penduduk ini terbukti tidak mampu mensejajarkan tingkat kesejahteraan dan kehidupan seleuruh masyarakat Indonesia. Lebih lanjut, akibat dari kebijakan berbasiskan data rerata tadi adalah semakin lebarnya kesenjangan ekonomi dan sosial  di kalangan penduduk.  Lihat saja berapa banyak peredaran uang Indonesia di Jakarta, atau tepatnya di Jawa,  bila dibandingkan dengan total uang yang beredar di Indonesia.  Yang terjadi sekarang, semua masyarakat Indonesia harus bahu membahu memajukan perekonomian pulau Jawa. Semua infra struktur ekonomi yang ada, misalkan jalan, penerbangan, telekomunikasi, dan bahkan pendidikan, diarahkan untuk mendukung dan memajukan pembangunan di pulau Jawa. Terlalu banyak cerita sedih yang terjadi di berbagai pelosok nusantara ini yang terjadi, bahkan lebih ironis lagi terjadi di daerah yang sumberdaya alamnya berkontribusi sangat tinggi kepada anggaran Negara ini, misalkan di Papua, Aceh, Riau, Kalimantan. 

Ringkasnya Presiden RI mendatang harus berani merubah pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang tidak bertumpu di pulau Jawa.  Langkahnya silakan pikir sendiri dengan tim.

2 komentar:

  1. Betul, pembagian APBN berbasis jumlah penduduk sangat merugikan Luar Jawa dan menguntungkan Jawa. Untuk memperkuat kebijakan di atas kita disuguhi data Statistik palsu, mereka sebut 70% penduduk Indonesia ada di jawa. Padahal yg benar penduduk pulau jawa hanya 54% penduduk indonesia.

    BalasHapus
  2. Sebenarnya kalo pemerintah berani nggak ekspor minyak mentah, masyarakat juga akan lebih sejahtera. Presiden mendatang harus berani melakukan itu. Juga harus berani menutup kebijakan impor produk yg dpt dihasilkan Indonesia. Masih banyak yg dpt dilakukan lbh serius dlm mengelola negara ini.

    BalasHapus