Translate

Sabtu, 02 Februari 2013

Argumentum ad populum


Dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tulisan, sering kita menemui seseorang beragumentasi dengan mengatasnamakan sekelompok orang, atau sekelompok masyarakat untuk meyakinkan lawan bicaranya atau para pembacanya. Metode ini memang kadang efektif apalagi jika argumen ditujukan kepada orang-orang yang malas membaca atau kurang berpengetahuan dan cenderung untuk mengikuti popular belief dalam komunitasnya.  Model komunikasi seperti ini disebut dengan argumentum ad populum.  Banyak orang yang lalu menggunakan metode ini untuk mengeksploitasi kelambabanan seseorang dalam berfikir, atau kecenderungan seseorang yang ingin serba instan dan tidak memiliki kepedulian sosial.  


Namun demikian, bagi orang-orang yang kritis dan berpengetahuan, argumentasi seperti ini sangat terlihat jelas tidak berbobot dan sangat jelas menunjukkan hal yang tidak relevan antara substansi komunikasi dengan apa yang disampaikan sebagai sebuah argumen dalam bentuk ‘tuntutan’ atau ‘kesepakatan’ suatu komunitas.  Kita sangat sering mendengar orang yang berargumentasi seolah-olah apa yang disampaikan adalah untuk kepentingan masyarakat banyak, padahal sebenarnya sikap tersebut merupakan ketidakmampuannya dalam menjelaskan inti persoalan dengan baik, dan atau dapat saja merupakan langkah diplomasi untuk mensukseskan tujuan-tujuan individu.  Jadi,  jangan percaya begitu saja terhadap suatu argumen-argumen yang mengatasnamakan kepentingan komunitas, atau kelompok tertentu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar