Translate

Selasa, 06 September 2011

Mudik dan introspeksi diri.

Mudik? memang sangat menyenangkan mengunjungi kampung halaman, menemui orang tua, kerabat, sanak saudara, dan bernostalgia dengan alam semasa kecil hingga remaja. Beruntunglah orang-orang yang masih punya tempat dan tujuan mudik. Lebih beruntung lagi adalah orang-orang yang mampu membuat mudik menjadi kenyataan.  Banyak orang yang tidak tahu kemana harus mudik [secara fisik maksudnya. :-)]. Mereka punya uang dan punya waktu, tapi tidak punyak tujuan untuk mudik.  Lebih banyak lagi orang punya tujuan dan punya waktu untuk mudik, tetapi tidak punya biaya untuk mudik. Menemui keceriaan orang tua saat mudik sungguh merupakan kebahagiaan yang tak tertukar dengan uang, seberapapun jumlahnya. Sungguh, ternyata yang mereka butuhkan hanyalah kebanggaan terhadap anak-anaknya [sesuai versi orang tua tentunya], bukan materi. Tugas anak-anak tentunya adalah memberikan kebanggaan agar orang tua tetap bahagia. Benih kebanggaan dapat saja tentang kisah sukses pribadi anaknya. Tentu akan merupakan kebahagiaan yang lebih besar lagi jika orang tua mendengar kisah sukses dan kebaikan sang anak melalui orang lain dalam bentuk ungkapan terima kashi, dalam bentuk kekaguman dan pujian.

Jika anda mudik saat iedul fitri kemaren, sempatkah anda melihat bagaimana lingkungan rumah orang tua sekarang dibanding dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu? Sempatkah anda berbaring di kamar yang anda gunakan semasa remaja dulu? Apakah anda temui perasaan betapa semuanya tidak banyak berubah, betapa orang tua mempertahankan rupa dan suasana aslinya?.  'Suasana' asli tersebut memang dipertahankan orang tua agar ia dapat bernostalgia, agar tetap merasa dekat anak-anaknya yang sudah jadi orang tua atau bahkan sudah menjadi kakek atau nenek di kota lain.  Lebih-lebih jika anda sempat secara diam melihat mereka beraktivitas melakukan rutinitas rumah tangga dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki.  Kalau hal-hal tersebut anda alami selama mudik, niscaya anda akan menyadari betapa besar cinta dan kasih sayang orang tua terhadap anak-anaknya.   Anda pasti akan terkenang semua kesalahan dan kekonyolan yang anda lakukan terhadap mereka. Tentu yang lebih konyol lagi adalah ketidaktahuan anda bahwa orang tua telah memaafkan semua kesalahan dan kekonyolan anda terhadap mereka.  Munculkah perasaan betapa berjasanya orang tua terhadap kita? Berbagai perasaan yang dapat saja muncul, tetapi yang pasti dengan mudik anda akan semakin  menghormati orang tua, semakin berterima kasih terhadap orang tua, anda akan semakin menyayangi orang tua, anda akan semakin berusaha untuk memperbaiki kekonyolan dan kenaifan anda di masa lalu, anda akan semakin berusaha untuk menyenangkan dan membahagiakan orang tua. Dengan demikian mudik tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan yang menjadi arena superfisial yang penuh basa-basi, tetapi harus menjadi waktu introspeksi diri yang baik tentang apa yang sudah kita lakukan selama untuk orang tua kita.  Lebih dari itu, mudik juga akan mengingatkan kita tentang apa yang kita lakukan dalam keseharian kita dalam menjalankan tugas, profesi dan tanggungjawab kita. Apakah kita seorang pekerja yang jujur, amanah, disiplin dan menegakkan kebenaran dalam berkerja? Hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya.

1 komentar:

  1. Berterimakasih kepada kedua orang tua kita yang membuat hidup ini indah dan kita menjadi orang seperti sekarang ini...
    dan tidak lupa berterima kasigh kepada Tuhan...
    Thanks All...

    BalasHapus