Translate

Jumat, 26 Agustus 2011

Mudik? apa yang dicari..?

Luar biasa? Mudik menjadi topik pembicaraan di semua media, cetak dan elektronik, siaran langsung, laporan langsung. Masih banyak lagi pembicaraan dan aktivitas seputar mudik yang tidak diliput oleh media.  Mudik, pulang kampung halaman, menemui orang tua, kerabat, silaturahim, unjuk keberhasilan, berbagi rasa, suka dan duka, macam-macam lagi yang berbau nostalgia.  Memang 'mudik' ini sudah 'disiapkan' dan 'diarahkan' pemerintah agar menjadi kenyataan. Mungkin dengan harapan akan terjadi perpindahan kapital antar pulau, atau perpindahan 'values', atau memang bagian dari upaya memperkokoh keutuhan NKRI.  Bayangkan betapa banyak persiapan yang dilakukan pemerintah. Rehabilitasi jalan (terutama yang di pulau Jawa, luar Jawa? emang mereka pikirin!), penertiban calo di stasiun dan berbagai himbauan lainnya seputar 'mudik'.
Tidak hanya pemerintah yang mendorong agar orang mudik, perusahaan swasta pun demikian. Bentuknya ? Promo tiket, mudik bareng, buka pos bantuan, pos informasi, dan lain-lain.  Pokoknya hingar bingar mudik menjelang iedul fitri memang luar biasa, tidak hanya kelihatan di bandara, di pelabuhan penyeberangan, di terminal bis, di stasiun kereta api, atau di jalan-jalan lintas, tetapi juga kelihatan di face book, di blog [kayak gini..:-)], lalu lintas email, radio amatir, lalu lintas telepon dan sms.  Karena 'mudik' menjadi trend sesaat yang senantiasa berulang setiap tahun, maka yang terjadi adalah banyak orang yang ikut-ikutan mudik, ada yang memaksakan [ngutang :-)] agar bisa mudik, atau korupsi kecil-kecilan, dan bahkan ada yang pura-pura mudik. Banyak orang yang ingin menjadi pelaku mudik, banyak juga yang memanfaatkan 'proses' mudiknya banyak orang itu, misalkan pedagang, penawar jasa. Mungkin orang-orang kelompok ini lebih beruntung secara ekonomis, memanfaatkan suasana emosi para pemudik. 


Mudik semestinya mampu dilakukan secara lebih esensial, apalagi setelah berpuasa penuh di bulan ramadhan. Mudik semestinya lebih dimaknai 'kembali ke khitah', ' kembali ke fitrah' kita manusia.  Secara fisik boleh saja sesorang pulang kampung, ketemu saudara, handai tolan, dan bernostalgia.  Tetapi kalau hanya demikian makna mudik yang dilakukan, mudik akan menimbulkan persoalan-persoalan baru dari sisi kejiwaan bagi pemudik.  Aneh kalau setelah berpuasa, lalu yang dilakukan hanya hal-hal yang superficial saja, hura-hura, pamer, membayar hutang mudik, tumbuhnya budaya konsumtif, pengen gampang aja.  Mudik semestinya mampu membuat seseorang memahami hakikat idul fitri, hakikat kehidupan, dan tak kalah pentingnya mampu melihat diri sendiri, dan bagaimana diri sendiri itu berperan secara benar di tengah-tengan orang lain dalam kesehariannya setelah mudik dilakukan.  Mudik harus mampu memperkuat dan menjembatani tercerabutnya nilai-nilai moralitas dan keagamaan dalam prilaku seseorang dalam kesehariannya agar dapat bekerja secara benar, secara benar dan secara benar, serta bekerja secara jujur, secara jujur, dan secara jujur.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar