Translate

Jumat, 03 Juni 2011

Jiwa yang Kosong

Nilai dan moralitas harus mengisi jiwa seseorang. Jiwa tanpa nilai dan moral hanya akan sia-sia, tak bermanfaat, baik untuk dirinya, apalagi untuk orang lain. Nilai dan moralitas lah yang menggerakkan jasad untuk berbuat baik atau berbuat onar dan korupsi.  Tubuh yang kokoh dan kasat mata hanya menerima perintah nurani, setelah logika menyatakan oke untuk dilaksanakan, juga setelah perasaan mengatakan tak ada persoalan untuk dieksekusi. 
Tubuh yang sehat, tegap dan mempesona tak akan punya nilai apa-apa jika tidak ada nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran dalam jiwa yang mengisinya. Ketika nilai dan moralitas tidak ada dalam jiwa seseorang, maka tidak ada peraturan hidup manusia yang tidak dapat dimanipulatif atau disiasati oleh si empunya jiwa.  Orang yang miskin nilai dan moralitasnya berpotensi untuk mengangkangi semua common sense sebuah peradaban. Orang yang demikian bahkan tidak takut untuk menipu Tuhan, mesiasati kodrat yang disediakan Sang Penguasa, bahkan tidak takut lagi dengan dosa dan kutukan. Bagi mereka semua hal-hal yang normatif itu adalah abstrak semata. Mereka lupa bahwa kekuatan yang abstrak yang ada dalam tubuh dan jiwa mereka itulah yang menggerakkan syahwatnya, syahwat akan harta, tahta dan bahkan wanita.  Orang-orang yang demikianlah yang menghambat kemajuan, mendorong ketidakadilan dan kecemburuan, merendahkan martabat manusia sendiri, meruntuhkan kepercayaan diri orang lain terhadap nilai kebenaran itu sendiri.  Mudah-mudahan tidak banyak orang yang seperti di atas.  Kalaupun banyak, tentu ketidakpastian dalam keseharian kita semakin menjadi. Kalaupun banyak tentu  kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan dalam berbagai akses mendapatkan hak menjadi terganggu. Tentu saja chaos kecil-kecilan terjadi.   Kalaupun kita  tidak merasa terganggu, padahal banyak sekali orang-orang yang jiwanya kosong dan seenaknya merusak tatanan kehidupan, bahkan membuat kita menjadi sengsara, padahal kita bukan termasuk orang seperti itu, sungguh kita sudah sangat tidak berdaya dan tidak sadar bahwa kita juga adalah orang-orang yang maklum, yang menerima, dan bahkan pemberi maaf terhadap ketidakajegan yang terjadi di sekitar kita. 


1 komentar: