Translate

Jumat, 27 Mei 2011

Kurangi Diskusi, Lakukan Sesuatu

Gembar gembor perlunya penguatan karakter ke-indonesia-an semakin gencar didiskusikan. Mudah-mudahan tidak hanya sebatas diskusi dan wacana. Apa yang dibutuhkan bangsa ini adalah tindakan konkrit dari pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.  Kalau tidak, yang terjadi adalah saling menyalahkan, generasi yang menganggap dirinya sudah 'tua' dan sudah banyak 'makan garam' menuduh anak-anak sekarang, generasi muda tidak punya karakter yang dapat membangun kebanggaan sebagai seorang Indonesian. Para penuduh ini lupa kalau merekalah yang justru gagal memberikan keteladanan, gagal menyediakan sebuah role model yang didambakan.  Kemunafikan, kepura-puraan dan prilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme yang ditunjukkan dan diperagakan di panggung kebangsaan hanya membuat para generasi muda semakin tidak percaya dengan apa yang disampaikan para generasi tua tersebut. Berubahlah para orang tua, para pemuka, para tokoh, bersikaplah konsisten, kurangi kepicikan, tunjukkan sikap yang membuat anak muda meyakini bahwa yang anda lakukan memang pantas dijadikan panutan. Anak muda itu berkembang menjadi orang apa yang mereka temui sehari-hari, they are what they see.


Sekarang Pancasila mulai dianggap harus dikembalikan lagi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pembentukan karakter bangsa. Ini menunjukkan bahwa pencantuman Pancasila sebagai azaz dan landasan berbangsa dan bernegara yang tertera dalam dokumen humum memang cuma slogan, cuma perlu dicantumkan agar secara legalitas formal tidak menyalahi kententuan yang berlaku. Pancasila belum dijadikan sebagai landasan moral dan sikap dalam berkarya, dalam membangun bangsa.  Padahal, pancasila yang merangkum semua nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sangat relevan dengan upaya untuk membentuk bangsa yang berkarakter.  

Tidak ada yang salah dengan nilai-nilai Pancasila tersebut, karena Pancasila merupakan nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman dan berkehidupan bagi semua orang. Yang menjadi persoalan adalah kekagal banyak pihak dalam menjadikan manusia Indonesia untuk dapat menerapkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila. Tidak ada yang perlu di-skeptis-kan terhadap Pancasila, karena ia hanya merupakan nilai-nilai kehidupan yang kebenarannya juga bisa berlaku secara universal.  Yang salah adalah menggunakan Pancasila sebagai alat untuk mencapai tujuan belaka, karena dengan begini Pancasila akan disandingkan dengan ketidakikhlasan, dengan ketidakjujuran, dan dengan kepamrihan.   

Semua orang harus memiliki landasan nilai yang diketahuinya dengan sadar untuk suatu visi. Tidak  akan ada orang sukses tanpa kesadaran penuh akan visinya dan upaya memelihara landasan nilai dan moral dengan konsisten.  Menjaga keyakinan merupakan tantangan, tetapi banyak orang juga yang berhasil khusuk dalam memelihara keyakinannya. Demikian juga dalam berbangsa ini, sebuah bangsa harus memiliki keyakinan akan sebuah nilai untuk menjadi bangsa yang berdaya saing dan bangsa yang besar. Sebuah bangsa tidak akan maju-maju jika hanya senantiasa mencari landasan nilai yang akan digunakan.  Kita sebenarnya sudah sadar kalau Pancasila secara yuridis formal merupakan landasan negara kita.  Tidak perlu ribut-ribut dan diskusi lagi untuk meyakininya. Yakini Pancasila, lakukan terus menerus agar keyakinan tersebut bertahan, jangan pernah mentolerir kemunafikan dan penyimpangan. Berupaya secara konsisten dengan landasan nilai yang kuat, belum tentu kita dapat sukses dengan baik, apalagi hidup tanpa landasan nilai sama sekali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar