Ketika sedang
berupaya berhenti merokok, ada sa'at-sa'at genting dimana tubuh seolah berkata “aku
perlu nikotin”. Kondisi ini sering muncul terutama pada sa'at-sa'at kita
biasanya menikmati kegiatan merokok. Ada
orang yang terbiasa menikmati rokok sambil minum kopi, ada yang terbiasa dengan
menikmati rokok sa'at-sa'at lelah bekerja, dan yang paling sering dilakukan
seseorang adalah merokok pada sa'at setelah makan (apalagi makan besar dengan
rasa pedas yang sangat berasa). Jam-jam
biologis tubuh terhadap nikotin ini sering muncul pada situasi yang sama pada
sa'at seseorang sudah berhenti merokok. Jika tidak kuat menahan rasa ingin
merokok tersebut, niscaya keputusan untuk berhenti merokok menjadi
sia-sia. Ada bebarapa siasat yang dapat
dilakukan seseorang setelah makan, sehingga dapat terlepas dari godaan untuk
merokok kembali. Pertama, lakukan
kegiatan online, browsing topik-topik
yang lagi trendi, atau buka email,
facebook, atau apa saja yang menarik yang tersedia di internet. Kalau ini
dilakukan, peluang untuk lupa terhadap nikotin sangat tinggi, sehingga rokok
tidak jadi dinikmati. Kedua, bila perlu main games di komputer. Paasti waktu berlau begitu cepat dengan konsentrasi tertuju ke games. Ketiga,
kembali membaca (novel, tugas, atau
bacaan lain). Ke-empat, coba balas telpon yang belum sempat dibalas,
atau memeriksa sms yang masuk, dan membals sms yang belum sempat dibalas. Yang
kelima, pastikan jangan pesan kopi
setelah makan, jika kenikmatan merokok anda rasakan dengan kopi. Tentu masih banyak yang dapat dilakukan
seseorang. Ke-lima hal tersebut hanya bersifat situasional, tuntutan tubuh
untuk merokok pada saat selesai makan.
Masih banyak trik dan metode lain yang dapat dilakukan. Yang paling penting
adalah tekad untuk berhenti merokok Tekadlah yang dapat membuat seseorang untuk
benar-benar dapat berhenti merokok. Kalau masih saja tergoda untuk merokok, ke-enam, segera berwudhu dan kuatkan hati
Senin, 12 Mei 2014
Minggu, 11 Mei 2014
One Way to Beat Stress: Arrive Early!
by Mary Gardner
I’m so excited that I have
discovered this secret today. It’s something that I promise will reduce
the stress level in your lives. It’s easy, convenient and all you have
to do is plan: THE NIGHT BEFORE!. Today
was the third day of school for my son Jeremy. Today we were among the
very first people at school. Every single day, the kids line up in the
parking lot at the school with their teachers. At 7:55am, the principal,
Mrs. Katie Walsh, directs the students in The Lord’s Prayer, and the
Pledge of Allegiance. It’s a wonderful tradition and unites the school
every single day.
Today, because Jeremy was the first
boy in his class to arrive, he got to be the line leader! Now, if you
know anything about kindergarten, The LINE Leader is a VERY special
thing to be. It’s the first person in line. It’s the leader. It’s the
HEAD HONCHO! And today, Jeremy was the line leader! That made him feel
special and I know this because he told the teacher that he was the
FIRST person in the class to get there this morning. He was quite proud
of that fact.
Yesterday though? A
totally different story! Yesterday Jeremy and I were running across the
parking lot to get there before the class went inside. We completely
missed the prayer AND the Pledge and I was rushing him so much he
started crying and nearly sat down in the middle of the parking lot.
When we got there, I pretty much threw him in line, kissed him goodbye
and both of us were nervous with adrenaline as we said goodbye. Whew! We
JUST made it. The alternative was the go to the principals’ office to
sign him in. I just can’t see me going to the PRINCIPAL’S office during
the first week of school. Especially since I was NEVER sent to the
Principal’s office in my whole 12 years of school! (Yes, believe it or
not. I was one of the GOOD GIRLS!)
Welcome To My blog "DINAMIKA"
Yes,
Welcome To My blog. Selamat Datang Ke Blog Saya. Bienvenido a mi blog. Bienvenue sur mon blog. Willkommen in meinem Blog. Chào mừng bạn đến blog của
tôi. Velkommen
til min blog. 歡迎到我的博客. 내 블
로그에 오신 것을 환영합니다, 私のブログへようこそ!. ยินดีต้อนรับสู่บล็อกของฉัน, Добро пожаловать на мой
блог. .مرحبا بكم في بلدي
بلوق
Kamis, 08 Mei 2014
Lima Cara untuk Tidak Balas Dendam
Menurut pengakuan beberapa teman, perasaan
dilecehkan, perasaan dihina, apalagi difitnah, lalu mengakibatkan kerugian
secara moril maupun materil, ternyata sulit untuk dihilangkan begitu saja.
Meski sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk tidak mengingatnya, selalu saja
muncul seketika, kadang-kadang pada saat yang tidak diduga. Munculnya ingatan
kesal dan pedih secara mendadak ini dapat membahayakan diri sendiri atau orang
lain, karena ekspresi penyalurannya untuk menghilangkan perasaan dilecehkan,
dihina atau difitnah cenderung membabi buta dan melibatkan apa saja yang ada di
sekitarnya. Ada gelas, dapat saja gelas tersebut ditepis atau dibanting. Ada
pengendara lain, dpat saja mereka dihardik atau diklakson. Apa saja situasi
yang kurang berkenan yang ada pada saat munculnya perasaaan terleceh, terhina,
dan terfitnah akan segera ditangkap dan dijadikan sasaran pelampiasan.
Kadang-kadang persoalan sepele dapat menjadi besar. Padahal sesungguhnya bukan
persoalan yang sedang muncul yang menjadi pendorong untuk marah, tetapi sebenarnya
perasaan terleceh, terhina, dan terfitnah
yang menjadi pemicu. Melakukan
pembalasan terhadap orang yang melecehkan mungkin saja dapat menghilangkan
perasaan-perasaaan tersebut. Tetapi hal ini sebenarnya justru merupakan
tindakan pelecehan terhadap diri sendiri.
Tidak ada jaminan bahwa membalas dendam akan menghilangkan perasaan
terleceh, terhina, dan terfitnah tersebut. Jangan-jangan malah akan memunculkan
persoalan baru yang lebih parah dan tak terkendali. Intinya, tidak ada perlunya untuk membalas
dendam. Kebenaran akan terkuak. Waktu akan membuka semua kebenaran
perlahan-lahan. Merasa sakit dan pedih merupakan respon manusiawi. Suatu saat,
orang akan datang menyangkali apa yang mereka yakini, dan meminta maaf.
Kalau kita percaya bahwa waktu dapat menyembuhkan
perasaan terleceh, terhina dan terfitnah, mungkin ada beberapa hal yang dapat
dilakukan. Pertama, jika perasaan
sakit, pedih dan kecewa tiba-tiba muncul, segeralah beristighfar atau menyebut
nama Allah, agar dijauhkan dari sifat pendendam. Ke-dua,
jika masih terasa sakit menyesakkan dada, wudhu dan shalat. Ke-tiga,
cari kesibukan baru yang menantang. Atau paling tidak baca buku edisi baru pada
topik atau pengarang favorit anda. Energi
yang harus dikeluarkan seseorang untuk memastikan ‘proyek’ barunya berjalan
lancar cukup untuk melupakan kepedihan hati. Ke-empat, bersedakah atau membantu orang-orang yang membutuhkan.
Apa saja yang dapat disedekahkan. Nikmati dan dapatkan kenikmatan yang tak
terduga dari bersedakah. Ke-lima,
jangan berusaha untuk membuktikan kalau anda benar. Kebenaran akan datang sendirinya,
seiring dengan waktu yang merontokkan fitnah. Memang susah untuk tidak membela diri, tapi yakinlah dibalik
perasaan terleceh, terhina dan terfitnah ada hikmah yang tidak kita bayangkan sebelumnya.
Minggu, 04 Mei 2014
Pikirkan Apa Yang Anda Tulis
Sebelumnya
saya pernah posting dengan judul Mahatma Gandhi's inspiring quote's, "Keep
your thoughts positive, because your thoughts become your words. Keep your
words positive, because your words become your behaviour. Keep your behaviours
positive, because your behaviours become your habits. Keep your habits
positive, because your habits become your values. Keep your values positive,
because your values become your destiny". Apa yang disampaikan Gandhi
tentu saja sangat populer dan mengilhami banyak orang di seluruh dunia.
Sebenarnya dalam menulis juga seseorang harus hati-hati dan berfikir.
Hati-hatilah dalam mempublikasikan
sebuah tulisan, termasuk apa yang ditulis di media sosial. Tulisan seseorang
mencerminkan pengetahuan dan ekspektasi seseorang, bahkan ‘kelas ‘
seseorang. Jangan asal mau populer, keren dan membuat heboh orang banyak
dengan tulisan yang kontroversial, tetapi tak mampu menghadapi gelombang
ketidaksetujuan yang muncul. Pikirkan dengan matang efek yang akan muncul
dengan tulisan tersebut. Jika harus ada konsekuensi yang dihadapi akibat
tulisan kita, pastikan semuanya dapat diatasi dengan baik. Tidak semua yang
kita tulis akan mampu ditangkap pembaca sama persis dengan apa yang ingin kita
sampaikan. Sepertihalnya penulis, pembacapun punya sisi subjektivitas
dalam membaca sebuah tulisan. Kehati-hatian dalam mempublikasikan sebuah
tulisan, bukan berarti harus menunda publikasi hingga semuanya pasti tidak ada
masalah atau tanggapan yang berbeda dari pembaca. Ada kalanya tulisan
memang harus dipublikasikan untuk mendapatkan tanggapan dari pembaca. Tidak
usah ragu dalam menyampaikan tulisan, baik di media sosial atau media cetak
lainnya, karena dengan demikianlah orang lain akan tahu jalan pikiran kita.
Yang pasti, setiap tulisan yang sudah dipublikasikan sudah menjadi milik
publik yang tidak pernah dapat ditarik lagi.
Sabtu, 03 Mei 2014
Tunda Kesimpulan
Hati-hatilah dalam
memaknai apa yang anda baca dari sebuah tulisan, karena tidak semua fakta, rasa,
pujian , pikiran , impian, dan cacian seseorang dapat ditulis secara gamblang
dalam sebuah tulisan. Bacalah dengan bijak, gunakan hati dan pikiran serta pengetahuan
agar dapat memahami sebuah tulisan secara utuh. Untuk sebuah kepastian, seseorang memang harus
mengambil kesimpulan dari sebuah tulisan atau lebih luasnya sebuah situasi,
tetapi jangan sampai kesimpulan yang diambil tersebut menutupi kemungkinan
adanya kesimpulan lain yang lebih tepat yang semestinya diambil. Kemampuan dan
kesabaran untuk menunda pengambilan kesimpulan dari apa yang dibaca dan lihat
dengan mata merupakan karakter bijak yang akan mampu memberikan pilihan-pilihan
yang lebih baik dan lebih mempermudah langkah menuju arah dan situasi yang
lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)