Impact Five Limited

Translate

Sabtu, 27 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita ? : Gila Gelar

Gelar memang merupakan suatu atribut tersendiiri bagi seseorang untuk mudah dikenal orang lain, meski dalam suatu komunitas yang kecil.  Saling memberi gelar atau julukan sesama kawan, atau dalam anggota keluarga justru merupakan ekspresi kekeluargaan dan kedekatan dalam persahabatan.  Gelar juga dapat diberikan oleh komunitas atau lembaga formal lainnya, termasuk gelar yang diberikan oleh adat dan  lembaga pendidikan formal.  Beberapa hal yang ironis justru berkembang di masyarakat kita. tentu saja hal ini dalam jangka panjang berakibat fatal bagi masyarakat kita sendiri. 

Gelar adat
Dalam sepuluh tahun terakhir ini yang marak terjadi adalah pemberian gelar adat yang terjadi di banyak daerah di Indonesia.  Sering kita membaca di koran-koran lokal, bagaimana prosesi pemberian gelar adat kepada Kepala Daerah dalam suatu upacara adat. Gelar Raja atau bangsawan juga diberikan kepada anggota Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (yang dulu disebut dengan unsur Muspida). Bahkan istri Kepala Daerah juga diberi Gelar sesuai dengan adat istiadat setempat.  Pernah juga terjadi bahwa gelar adat juga diberikan kepada tamu (biasanya Kepala Daerah lain) yang berkunjung ke suatu daerah.

Jumat, 26 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita ? : Gemar Mengaku Miskin.


Kemiskinan di negara kita mungkin juga disebabkan oleh proses pemiskinan yang dilakukan diri sendiri dan keluarga banyak masyarakat kita. Pemiskinan secara moral dan etika terhadap diri sendiri dan keluarga yang terus menerus dilakukan dalam tindakan konkrit sehari-hari akan berujung pada kemiskinan secara ekonomis dan secara sosial. Kita sering menemukan betapa masih banyaknya masyarakat  kita yang dengan sukarela dan ikhlas mengaku dirinya miskin agar mendapatkan kompensasi dari negara.

Senin, 22 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita ? : Semua Dapat Diatur


Masyarakat kita sudah sangat percaya bahwa semua kesempatan, semua aturan dan semua seleksi dapat diatur. Semuanya dapat direkayasa, semuanya dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan otoritas.  Masyarakat kita sudah sangat percaya bahwa semua aturan dapat diakali, dapat dicari pembenaran hukumnya untuk menutupi kejahatan. Masyarakat kita juga sudah sangat percaya bahwa semua proses  seleksi hanyalah sebuah sebuah formalitas belaka untuk memperoleh sebuah justifikasi.

Jumat, 19 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita ? : Membeli Amanah (2)


Fenomena lain yang sering terjadi dalam masyarakat kita terkait jual beli amanah sejak masa reformasi ini adalah dalam kegiatan penerimaan calon pegawai negeri sipil dan promosi jabatan yang terjadi di banyak kabupaten dan propinsi di Indonesia.  Seperti halnya dengan korupsi, modus yang terjadi tidak ubahnya seperti kentut yang berbau, bentuknya tidak dapat dilihat, tapi baunya mengganggu orang di sekitarnya. Kalau tidak ada orang yang mengaku melakukannya, atau mendengar langsung secara dekat suara letupannya, maka akan sangat sulit untuk mengetahui siapa pelakunya.  Entah apa yang terlintas dalam  benak banyak masyarakat kita.  Menjadi abdi masyarakat kok harus dan mau membayar. Memiliki tanggungjawab lebih besar dalam pekerjaan di kantor, kok harus dan mau membayar.

Rabu, 17 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita? : Membeli Amanah

Aneh memang, tapi itulah yang sering terjadi dalam masyarakat kita dalam banyak kesempatan. Salah satu contohnya adalah dalam upaya menjadi seorang anggota dewan, menjadi kepala daerah, menjadi pejabat, menjadi kepala desa, atau menjadi apa saja yang merupakan representasi dari masyarakat.  Semestinya amanah atau kepercayaan masyarakat itu diperoleh karena masyarakat memang melihat seseorang itu pantas untuk diberi amamah, untuk diberi tanggungjawab, baik karena prestasi, pengalaman, ketrampilan khusus, komitmen, integritas, kejujuran. Sangat lazim kita dengar obrolan khalayak, atau baca di koran tentang bagaimana seorang calon anggota legislatif atau kepala daerah diisukan mengeluarkan uang untuk mendapatkan suara, benar-benar beli suara, agar terpilih. Proses beli suara ini bak gayung bersambut. Banyak anggota masyarakat yang akhirnya bersikap ambil uang dari semua kandidat, persoalan memilih persoalan kedua.  Bahkan disinyalir, banyak uang dari para kandidiat tidak benar-benar dikeluarkan oleh ‘sales’ nya untuk disampaikan kepada pemberi suara.  Aneh memang, pembeli suara memneli suara melalui orang-orang kepercayaannya. Ada anggota masyarakat yang memang mau menjual suaranya kepada satu kandidat saja. Ada juga yang ambil semua uang dari semua kandidat. Ada juga orang kepercayaan kandidat malah tidak melakukan pembelian apapun, kecuali memanfaatkan syahwat kekuasaan kandidat.
Menyedihkan memang. Mudah-mudahan hal tersebut tidak terjadi. Kalau pun terjadi, entah siapa yang harus disalahkan. Lebih menyedihkan karena kejadia seperti itu melibatkan banyak orang yang berpendidikan, banyak orang yang mengaku religious, dan selalu menyampaikan dan menasehati bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang boleh dan pantas dilakukan.  Kerakusan bertemu dengan kebodohan, dibumbui kepicikan, kemunafikan ketidakjujuran, ketidakpercayaan diri, pragmatisme lalu berbaur saling mengeksploitasi di sepanjang jalan menuju kehancuran dan merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.  


Selasa, 16 Juli 2013

Apa yang Salah dengan Masyarakat Kita ? (1)

Apa yang salah dengan kebanyakan masyarakat Indonesia ini?. Setiap hari kita disajikan dengan berita dan kenyataan yang sering terjadi di sekitar kita dengan kejadian-kejadian yang sangat menggugah integritas dan nilai-nilai kebenaran.  Banyak orang yang mampu membicarakan dan bahkan untuk mengajak agar mematuhi aturan, menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, kemanusiaan dan berbagai nilai positif lainnya yang memang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan dalam kajian pengetahuan.  Banyak ajakan dan himbauan agar kita saling menghormati, saling menghargai, saling menolong, menjauhi tindakan manipulatif, munafik, koruptif, nepotik, kolutif, dan menjauhi segala bentuk tindakan yang mengancam tatanan sosial.

Sabtu, 06 Juli 2013

Mau Sekolah/Kuliah yang Bagus? Harus Tahu Kemampuan Akademik

Sungguh merupakan suatu keberuntungan karena bisa bertetangga dengan guru-guru dan dosen yang mempunyai integritas tinggi dalam melaksanakan tugas dan proses pendidikan, termasuk dalam proses penerimaan siswa dan mahasiswa baru. Kita semua tahu kalau di awal tahun ajaran baru orang tua disibukkan dengan bagaimana mendapatkan sekolah yang baik untuk anak-anaknya.  Para tetangga saya yang kebanyakan pendidik tersebut bertutur kalau mereka sangat heran dan bahkan merasa sangat sedih karena kecenderungan masyarakat untuk melakukan jalan-jalan pintas untuk mendapatkan kesempatan sekolah atau kuliah. Menurut mereka masih sangat banyak anggota masyarakat sangat yakin kalau uang yang mereka miliki bisa mendapatkan segalanya, mampu menyisihkan prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan dalam penerimaan siswa dan mahasiswa baru. Masih sangat banyak anggota masyarakat yang dengan tanpa rasa malu dan risih berusaha menyuap para guru dan dosen. Masyarakat tidak pernah berfikir kalau tindakan itu adalah sebuah pelecehan terhadap profesi dan pribadi pendidik, yang membuat para pendidik merasa sangat terhina dan sangat direndahkan.

Minggu, 30 Juni 2013

Know The Many Benefits Of Laughter


by Steven K. Conlan

True to the age old proverb of laughter being the best medicine, this uncomplicated expression of glee has many benefits. Here we glance at how laughter can assist your wellbeing and why you must luxuriate in it each day.

The 1st and foremost advantage of laughter is that it assists enhance general fitness. It's because of this, that many yoga poses incorporate laughter. There are a number of researches and reports that opine that laughter could enhance your fitness in more than just one manner. It augments the pumping of blood, increases the circulation of o2 and boosts your immunity mechanism. As a result, your general fitness is certain to increase.

Quite surprisingly, laughter could reduce blood pressure as well. Many researches have proved that people fighting with blood pressure laugh very rarely. Almost always anxiety is the leading cause of health troubles such as hypertension. This is where laughter comes to your aid. It alleviates stress which subsequently regularizes the blood pressure readings to a brilliant extent.

Rabu, 26 Juni 2013

Menuju Ketinggian


Sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi orang yang dapat menikmati sensasi dan pemandangan ketika berada di ketinggian. Jika duduk di bagian jendela pesawat dan melihat keluar, tidak hanya bentuk dan sebaran awan saja yang dapat kita lihat dan nikmati, tetapi juga bentang alam yang begitu indah dan menakjubkan. Situasi itu mampu memberikan sensasi tersendiri, sesuai dengan persepsi kita, dan pada akhirnya mengakui kebesaran Illahi dan lantas membuat diri merasa tidak memiliki apa-apa di hadapan Sang Pencipta. Kita juga akan menemukan sensasi yang serupa daripemandangan ketika kita berada di atas menara dan di puncak gunung.  Berada di ketinggian yang lebih memberikan peluang bagi seseorang untuk melihat apa yang terjadi di sekitarnya dengan lebih konprehensif.
Menuju ketinggian, misalkan dalam hal ini, menuju puncak gunung memang merupakan perjalanan yang melelahkan. Demikian juga dengan menggapai cita-cita dan impian. Semuanya memerlukan waktu, memerlukan energi, memerlukan komitmen dan integritas, dan tentu saja memerlukan keputusan untuk mencapainya.  Ada orang yang dengan sengaja memutuskan untuk berhenti menuju ketinggian. Ada juga yang memutus untuk terus mendaki menuju ketinggian. Ada juga orang berhenti sejenak, lalu melanjutkan perjalanan menuju ketinggian. Semuanya adalah keputusan. Keputusan untuk terus atau berhenti mendaki juga memerlukan perhitungan dan rencana serta kesiapan yang matang. Kalau tidak akan tergelincir dan bahkan jatuh sebelum mencapai tujuan. Integritas dan komitmen terhadap nilai kebenaran juga sangat penting untuk mencapai ketinggian.

Sabtu, 08 Juni 2013

Cari Perhatian untuk Menutupi Kegalauan

Sering kita melihat bagai mana orang, misalkan di bandara, berbicara dengan keras, bahkan tertawa dengan terbahak-bahak, tanpa memikirkan bagaimana terganggunya orang yang ada di sekitarnya. Orang-orang seperti itu sebenarnya sedang menutupi kegelisahannya dan berusaha untuk menenangkan dirinya. Apalagi jika orang tersebut tertawa sambil melihat kiri dan kanan seolah-olah mempertegas kehadirannya dalam kerumuman publik. Dengan bertindak demikian, orang tersebut mungkin saja dapat segera merasa menjadi bagian dari lingkungan barunya. Prilaku seperti itu juga sebenarnya juga menunjukkan bahwa orang tersebut sedang mengalami perasaan kurang percaya diri, sehingga berusaha untuk ‘menaklukkan’ lingkungan barunya dengan bersikap attractive, menunjukkan keberadaannya, dan agar mampu berusaha untuk menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Ironinya, ekspresi yang dikeluarkan malah mengganggu orang lain di sekitarnya. Kita dapat saja merasa terganggu terhadap situasi seperti itu. Tetapi sebenarnya kita juga harus merasa iba kepada orang tersebut, karena ia sedang mengalami situasi inferior. Karena situasi seperti itu terjadi di tempat umum, sebaiknya kita menyingkir saja dari orang-orang yang berbicara dengan keras dan tertawa terbahak-bahak tersebut, apalagi disertai dengan celingak celinguk provokatif. Mengingatkan mereka agar tidak mengganggu orang lain hamper dipastikan tidak ada gunanya, karena orang-orang yang sedang merasa inferior atau minder biasanya bersikap defensive dan cenderung aggressive.

Rabu, 05 Juni 2013

Kekuatan harapan, do'a dan semangat

Setiap hari manusia bangun dari tidurnya, ada yang sejak fajar menyingsing, bahkan ada yang terbangun oleh deraan sinar matahari pagi. Matahari senantiasa terbit, tidak peduli manusia masih tidur atau sudah bangun. Begitu juga kehidupan setiap orang yang harus terus berlanjut selama manusia itu hidup. Setiap orang bangun dari tidurnya disertai harapan dan rencana untuk mengisi harinya. Mewujudkan rencana tersebut, berbagai masukan disiapkan, materi, tenaga dan harapan itu sendiri. Teruslah berharap, teruslah berupaya untuk mewujudkannya, jangan lupa berdoa tentunya. Harapan dan do'a merupakan dorongan internal yang luar biasa pentingnya dalam mencapai harapan itu sendiri. Keduanya mampu menaklukan ketiadaan fasilitas dan pendukung lainnya. Kata orang bijak, fasilitas boleh terbatas, tapi kreativitas jangan sampai terbatas. Harapan dan do'a mampu mendorong seseorang untuk kreatif dalam mencapai tujuannya. Keduanya juga mampu melahirkan semangat untuk terus berusaha. Ya, semangat!. Kemajuan dalam usaha dan pekerjaan setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, dan setiap waktu membutuhkan semangat. Jangan pernah mengkombinasikan harapan, do'a dan semangat dalam berusaha, dalam bekerja, dalam belajar, dalam mengisi keseharian kita. Ketiganya mampu melahirkan optimisme dalam menjalankan pekerjaan dan kehidupan agar berhasil dan memberi manfaat kepada banyak orang, tidak hanya pada diri sendiri. Laptop, buku, dan bahkan uang boleh tinggal ketika akan pergi kerja, tapi jangan pernah meninggalkan ketiganya.

Sabtu, 01 Juni 2013

Kerelaan dalam sepak bola

Lagi-lagi tentang sepak bola. Permainan ini tidak hanya kadang mampu menghibur penontonnya lewat atraksi individu dan kerjasama tim yang mengundang decak kagum, tetapi juga mampu memberikan pelajaran akan pentingnya sebuah kerelaan dan keikhlasan. Sering kita melihat bagaimana seorang pemain yang dengan kooperatifnya memberikan umpan kepada temannya yang relatif lebih berpeluang dalam melesakkan bola ke gawang lawan untuk menjadi gol. Kerelaan seperti ini membutuhkan integritas yang tinggi dengan menempatkan kepentingan tim di atas kepentingan populeritas individu. Sering juga, sebaliknya, kita disuguhi tontonan dimana seorang pemain yang memaksakan aksi individunya dengan melindas kepentingan tim lalu gagal melesakkan bola ke gawang lawan. Bahkan kadang lebih ironis lagi sesekali kita disuguhi tontonan dimana seorang pemain meluluhlantakkan kesempatan rekan setimnya untuk memasukkan bola ke gawang lawan dengan merebut bola yang sudah hampir pasti dapat dilesakkan rekannya hanya karena karena sudah disepakati tim bahwa ia harus menjadi pencetak gol. Bayangkan kalau bola yang direbut tidak dilesakkan dengan baik, pasti penyesalan pemain lainnya, pelatih dan bahkan pendukung fanatik tim yang mencuat. Semestinya setiap pemain harus mampu bersikap jujur terhadap diri sendiri tentang siapa yang paling berpeluang menciptakan gol, tanpa harus memaksakan penugasan pelatih, apalagi hanya untuk menuntaskan target individu.
MoreNiche LTD