Translate

Jumat, 30 Mei 2014

7 Ways to Get Happy on a Lunch Break …


by Steven Fitzpatrick

7. Try Learning Something New

Haven't you always wanted to learn a new language? Then take your lunch break to do so. If you have an iPhone, you can download some podcasts that will help you learn a new language.

6. A Powernap in the Car

If you are looking to get happy on a lunch break, why not go to your car and take a short powernap. Research has shown that a twenty minute powernap during the day is enough to refuel and make you happy again.

5. Spend Time with Your Spouse

If the two of you work together or work near each other, then meet and have lunch together.

4. Plan a Vacation

Planning a vacation gives a lot to look forward to. So, during your lunch break, break out with your planner and start planning.

If you can change the whole things, change yourself.....

If you can not change the whole things, change yourself.....

Senin, 26 Mei 2014

Monday Quotes


“The man who does not work for the love of work but only for money is not likely to neither make money nor find much fun in life.”    - Charles M. Schwab. 

"I have often regretted my speech, never my silence."- Xenocrates (396-314 B.C.)

Minggu, 25 Mei 2014

Ways To Quit Smoking - Separate The BS From The Truth


by Alan B. Densky, CH

States throughout the country have curtailed smoking in public areas. Hospitals have declared their work environments to be smoke-free, and are punishing workers who smoke at work. Persons who smoke brave bad weather and rain, sleet or snow, and smoke away as hurriedly as they are able so that they can return to work.    In some cities, smoking has become as controversial as drug addiction. Since the public has become so educated about stop smoking benefits, a significant number are doing their best to identify ways to quit smoking.   Smoking habits consist of three elements:

1. Smoking for relaxation and pleasure is about 45 percent of the reason that people continue to smoke.

2. People also smoke because they unconsciously associate agreeable environments or behaviors with cigarettes. Then, when people find themselves in these situations, they desire a cigarette. One example of this is when a person strongly associates drinking coffee with smoking a cigarette. Every time they get another cup of coffee, they strongly crave a cigarette. This makes up about 45% of the habit.

3. People smoke because they develop a physical addiction to Nicotine. This element is approximately 10 percent of the smoking habit. When people quit smoking, all of the Nicotine is gone from their bodies after about three days!

A variety of methods are available to assist people learn ways to quit smoking. One particularly inexpensive way to quit smoking, which is reimbursed through the majority of insurance agencies, is the nicotine patch. Easy to apply, each patch is worn for one day and can be easily hidden beneath a person's clothing. The drawback to these patches, however, is that patches are not very beneficial. Because patches only deal with the physiological addiction, which accounts for just 10% of the habit, only about seven percent of the people who use this method will succeed.

Senin, 12 Mei 2014

Enam Teknik Mensiasati Tuntutan Nikotin setelah Makan



Ketika sedang berupaya berhenti merokok, ada sa'at-sa'at genting dimana tubuh seolah berkata “aku perlu nikotin”. Kondisi ini sering muncul terutama pada sa'at-sa'at kita biasanya menikmati kegiatan merokok. Ada orang yang terbiasa menikmati rokok sambil minum kopi, ada yang terbiasa dengan menikmati rokok sa'at-sa'at lelah bekerja, dan yang paling sering dilakukan seseorang adalah merokok pada sa'at setelah makan (apalagi makan besar dengan rasa pedas yang sangat berasa).  Jam-jam biologis tubuh terhadap nikotin ini sering muncul pada situasi yang sama pada sa'at seseorang sudah berhenti merokok. Jika tidak kuat menahan rasa ingin merokok tersebut, niscaya keputusan untuk berhenti merokok menjadi sia-sia.  Ada bebarapa siasat yang dapat dilakukan seseorang setelah makan, sehingga dapat terlepas dari godaan untuk merokok kembali. Pertama, lakukan kegiatan online, browsing topik-topik yang lagi trendi, atau buka email, facebook, atau apa saja yang menarik yang tersedia di internet. Kalau ini dilakukan, peluang untuk lupa terhadap nikotin sangat tinggi, sehingga rokok tidak jadi dinikmati.  Kedua, bila perlu main games di komputer. Paasti waktu berlau begitu cepat dengan konsentrasi tertuju ke games.  Ketiga, kembali membaca  (novel, tugas, atau bacaan lain). Ke-empat,  coba balas telpon yang belum sempat dibalas, atau memeriksa sms yang masuk, dan membals sms yang belum sempat dibalas. Yang kelima, pastikan jangan pesan kopi setelah makan, jika kenikmatan merokok anda rasakan dengan kopi.  Tentu masih banyak yang dapat dilakukan seseorang. Ke-lima hal tersebut hanya bersifat situasional, tuntutan tubuh untuk merokok pada saat selesai makan.  Masih banyak trik dan metode lain yang dapat dilakukan. Yang paling penting adalah tekad untuk berhenti merokok Tekadlah yang dapat membuat seseorang untuk benar-benar dapat berhenti merokok. Kalau masih saja tergoda untuk merokok, ke-enam, segera berwudhu dan kuatkan hati

Minggu, 11 Mei 2014

One Way to Beat Stress: Arrive Early!

by Mary Gardner

I’m so excited that I have discovered this secret today. It’s something that I promise will reduce the stress level in your lives. It’s easy, convenient and all you have to do is plan: THE NIGHT BEFORE!.   Today was the third day of school for my son Jeremy. Today we were among the very first people at school. Every single day, the kids line up in the parking lot at the school with their teachers. At 7:55am, the principal, Mrs. Katie Walsh, directs the students in The Lord’s Prayer, and the Pledge of Allegiance. It’s a wonderful tradition and unites the school every single day.

Today, because Jeremy was the first boy in his class to arrive, he got to be the line leader! Now, if you know anything about kindergarten, The LINE Leader is a VERY special thing to be. It’s the first person in line. It’s the leader. It’s the HEAD HONCHO! And today, Jeremy was the line leader! That made him feel special and I know this because he told the teacher that he was the FIRST person in the class to get there this morning. He was quite proud of that fact.
Yesterday though? A totally different story! Yesterday Jeremy and I were running across the parking lot to get there before the class went inside. We completely missed the prayer AND the Pledge and I was rushing him so much he started crying and nearly sat down in the middle of the parking lot. When we got there, I pretty much threw him in line, kissed him goodbye and both of us were nervous with adrenaline as we said goodbye. Whew! We JUST made it. The alternative was the go to the principals’ office to sign him in. I just can’t see me going to the PRINCIPAL’S office during the first week of school. Especially since I was NEVER sent to the Principal’s office in my whole 12 years of school! (Yes, believe it or not. I was one of the GOOD GIRLS!)

Welcome To My blog "DINAMIKA"

Yes, 

Welcome To My blog.  Selamat Datang Ke Blog Saya. Bienvenido a mi blog.  Bienvenue sur mon blog. Willkommen in meinem Blog. Chào mừng bạn đến blog của tôi. Velkommen til min blog.  歡迎到我的博客 블 로그에 오신 것을 환영합니다,  私のブログようこそ!. ยินดีต้อนรับสู่บล็อกของฉัน,  Добро пожаловать на мой блог.   .مرحبا بكم في بلدي بلوق

Kamis, 08 Mei 2014

Lima Cara untuk Tidak Balas Dendam


Menurut pengakuan beberapa teman, perasaan dilecehkan, perasaan dihina, apalagi difitnah, lalu mengakibatkan kerugian secara moril maupun materil, ternyata sulit untuk dihilangkan begitu saja. Meski sudah berupaya dengan sekuat tenaga untuk tidak mengingatnya, selalu saja muncul seketika, kadang-kadang pada saat yang tidak diduga. Munculnya ingatan kesal dan pedih secara mendadak ini dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain, karena ekspresi penyalurannya untuk menghilangkan perasaan dilecehkan, dihina atau difitnah cenderung membabi buta dan melibatkan apa saja yang ada di sekitarnya. Ada gelas, dapat saja gelas tersebut ditepis atau dibanting. Ada pengendara lain, dpat saja mereka dihardik atau diklakson. Apa saja situasi yang kurang berkenan yang ada pada saat munculnya perasaaan terleceh, terhina, dan terfitnah akan segera ditangkap dan dijadikan sasaran pelampiasan. Kadang-kadang persoalan sepele dapat menjadi besar. Padahal sesungguhnya bukan persoalan yang sedang muncul yang menjadi pendorong untuk marah, tetapi sebenarnya perasaan  terleceh, terhina, dan terfitnah yang menjadi pemicu.  Melakukan pembalasan terhadap orang yang melecehkan mungkin saja dapat menghilangkan perasaan-perasaaan tersebut. Tetapi hal ini sebenarnya justru merupakan tindakan pelecehan terhadap diri sendiri.  Tidak ada jaminan bahwa membalas dendam akan menghilangkan perasaan terleceh, terhina, dan terfitnah tersebut. Jangan-jangan malah akan memunculkan persoalan baru yang lebih parah dan tak terkendali.  Intinya, tidak ada perlunya untuk membalas dendam. Kebenaran akan terkuak. Waktu akan membuka semua kebenaran perlahan-lahan. Merasa sakit dan pedih merupakan respon manusiawi. Suatu saat, orang akan datang menyangkali apa yang mereka yakini, dan meminta maaf.

Kalau kita percaya bahwa waktu dapat menyembuhkan perasaan terleceh, terhina dan terfitnah, mungkin ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, jika perasaan sakit, pedih dan kecewa tiba-tiba muncul, segeralah beristighfar atau menyebut nama Allah, agar dijauhkan dari sifat pendendam.  Ke-dua, jika masih terasa sakit menyesakkan dada, wudhu dan shalat.  Ke-tiga, cari kesibukan baru yang menantang. Atau paling tidak baca buku edisi baru pada topik atau pengarang favorit anda.  Energi yang harus dikeluarkan seseorang untuk memastikan ‘proyek’ barunya berjalan lancar cukup untuk melupakan kepedihan hati. Ke-empat, bersedakah atau membantu orang-orang yang membutuhkan. Apa saja yang dapat disedekahkan. Nikmati dan dapatkan kenikmatan yang tak terduga dari bersedakah. Ke-lima, jangan berusaha untuk membuktikan kalau anda benar. Kebenaran akan datang sendirinya, seiring dengan waktu yang merontokkan fitnah. Memang susah untuk  tidak membela diri, tapi yakinlah dibalik perasaan terleceh, terhina dan terfitnah ada hikmah yang tidak kita bayangkan sebelumnya.

Minggu, 04 Mei 2014

Pikirkan Apa Yang Anda Tulis

Sebelumnya saya pernah posting dengan judul Mahatma Gandhi's inspiring quote's, "Keep your thoughts positive, because your thoughts become your words. Keep your words positive, because your words become your behaviour. Keep your behaviours positive, because your behaviours become your habits. Keep your habits positive, because your habits become your values. Keep your values positive, because your values become your destiny". Apa yang disampaikan Gandhi tentu saja sangat populer dan mengilhami banyak orang di seluruh dunia. Sebenarnya dalam menulis juga seseorang harus hati-hati dan berfikir.

Hati-hatilah dalam mempublikasikan sebuah tulisan, termasuk apa yang ditulis di media sosial. Tulisan seseorang mencerminkan pengetahuan dan ekspektasi seseorang, bahkan ‘kelas ‘ seseorang.  Jangan asal mau populer, keren dan membuat heboh orang banyak dengan tulisan yang kontroversial, tetapi tak mampu menghadapi gelombang ketidaksetujuan yang muncul. Pikirkan dengan matang efek yang akan muncul dengan tulisan tersebut. Jika harus ada konsekuensi yang dihadapi akibat tulisan kita, pastikan semuanya dapat diatasi dengan baik. Tidak semua yang kita tulis akan mampu ditangkap pembaca sama persis dengan apa yang ingin kita sampaikan.  Sepertihalnya penulis, pembacapun punya sisi subjektivitas dalam membaca sebuah tulisan. Kehati-hatian dalam mempublikasikan sebuah tulisan, bukan berarti harus menunda publikasi hingga semuanya pasti tidak ada masalah atau tanggapan yang berbeda dari pembaca.  Ada kalanya tulisan memang harus dipublikasikan untuk mendapatkan tanggapan dari pembaca. Tidak usah ragu dalam menyampaikan tulisan, baik di media sosial atau media cetak lainnya, karena dengan demikianlah orang lain akan tahu jalan pikiran kita.  Yang pasti, setiap tulisan yang sudah dipublikasikan sudah menjadi milik publik yang tidak pernah dapat ditarik lagi.