Translate

Minggu, 15 September 2013

Kupon Berhadiah : Modus Pembodohan Masyarakat

Berbagai modus kupon berhadiah yang mendorong dan mendidik masyarakat utk mendapatkan hasil dgn jalan pintas. Lihat saja di koran-koran lokal di banyak daerah. Semuanya itu model pembodohan sistimatis yg dilakukan pemimpin, politikus, dan tokoh masyarakat yang harus diwaspadai. Saling membesarkan sesama manusia memang dianjurkan, tetapi membesarkan diri sendiri dengan membodohi masyarakat sangat tidak terpuji. Masyarakat yang harus cerdas dan mencerdaskan diri, kalau tidak, masyarakat akan terus dieksploitasi dan dibodohi pihak lain untuk mendulang populeritas sesaat.

Mungkin tidak ada masalah dengan medianya, apalagi media yang memang mengembangkan model komunikasi transaksional dengan pembacanya sehingga memungkinkan terjadinya proses negosiasi makna antara apa yang disajikan dengan yang masyarakat maknai. Yang justru bermasalah mungkin adalah sikap masyarakat yang permisif dan membiarkan hal itu terjadi tanpa menunjukkan keberatan atau perlawanan, sehingga media dengan leluasa memanfaatkan ruang tersebut. Langkah kongkrit setiap individu dapat dilakukan dengan tidak berpartisipasi dalam program 'bagi-bagi rejeki', 'bagi-bagi belanja', 'bagi-bagi uang buka', atau apalah modus-modus lainnya.

Meskipun sebagian orang menganggap modus kupon undian berhadiah adalah salah satu strategi pemasaran  untuk memperkenalkan dirinya dalam dunia politik merupakan hal yang sah-sah saja,  masih banyak orang yang lebih percaya bahwa modus seperti itu cermin ketidakmampuan kandidat dalam meyakinkan masyarakat untuk memilihnya. Banyak (calon) politikus yang melakukannya dengan mengeksploitasi mimpi masyarakat untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dengan cara-cara yang gampang.  Pembodohan kepada masyarakat harus dihentikan. Realita ini memang terasa getir. Tetapi justru disinilah tugas kita yang cukup menantang: mencerdaskan untuk masyarakat dan melawan "Der Media-Gewalt" ("kejahatan media"). Jargon "siapa yang menguasai informasi (media) dapat menguasai dunia" dipraktikan di tengah masyarakat yang masih pragmatis dan hedonik.

Kamis, 05 September 2013

Keluhan berbalut Kritikan


Pancaran aura positif, baik dalam prilaku dan bertutur akan melahirkan kedamaian tidak hanya bagi orang yang memancarkan aura positif tersebut, tetapi juga bagi orang-orang terkena atau bahkan hanya melihat pancaran aura positif tersebut.  Kebaikan, atau sisi positif, dari sesuatu yang diungkapkan secara terus menerus akan memperlebar kebaikan itu sendiri, dan bahkan mampu memperbaiki kekurangan semua orang.  Lalu mengapa masih sering kita temui orang yang sama sekali tak mampu berterima kasih pada apa yang dimilikinya, orang yang sama sekali tak mampu melihat, selain dirinya, dari sisi positifnya.  Sungguh sangat menyedihkan kalau kita terus mendengar orang atau sekelompok orang yang sama terus menerus mengeluh tanpa henti dan mengeritik semua hal yang ada di depan matanya.  Luar biasa ‘sudut pandang’ orang seperti ini, apapun yang ada di sekitarnya selalu dilihat dari sudut pandang yang negatif.  Seseorang perlu kemampuan sosial untuk selalu berusaha melihat persoalan dari sudut pandang yang positif. Dalam memandang sesuatu, kalau kita ingin fokus pada dimensi negatif, pasti akan ketemu, karena tidak ada manusia yang sempurna, apalagi perbuatan manusia.
Orang-orang yang demikian sama sekali tak layak untuk dibenci, tapi harus dikasihani.  Lalu mengapa kita harus merasa sedih dan iba pada orang-orang yang senantiana mengeluh sembari mengeritik membabibuta tanpa mampu melihat sesuatu dari sisi positifnya ?.  Orang-orang yang demikian biasanya merupakan orang-orang yang kesepian, kurang percaya diri, sedang gelisah, sedang menutupi kelemahan, sedang mencari perhatian, atau jangan-jangan memang mengalami penderitaan psikis dan fisik dimasa lalunya.    Orang-orang yang senantiasa berkeluh kesah dan dikemasi dalam bentuk kegiatan mengeritik sesuatu secara tidak proporsional sebenarnya tidak sedang membuat menara kebajikan, tetapi seang menggali lubang untuk dirinya sendiri. Semakin bayak yang disampaikannya, semakin meningkat pemahaman orang lain tentang kepicikannya.