Translate

Jumat, 29 Maret 2013

Catatan Lain tentang Kebahagiaan


Sungguh merupakan pemandangan yang sering kita kihat dimana orang berlomba-lomba mendapatkan uang dengan cara apapun, dimanapun dan kapanpun. Banyak juga orang melakukannya dengan melindas nilai-nilai kebenaran, nilai-nilai kemanusiaan dan bahkan merendahkan martabat diri sendiri.    Banyak diantara pencari uang tersebut juga berfikir dengan memiliki banyak uang, mereka akan menjadi lebih bahagia. Jika benar kebahagiaan itu dapat dibeli dengan uang, niscaya kebahagiaan itu hanya milik para konglomerat, para koruptor yang kaya luar biasa yang mampu membiayai hidup untuk tujuh keturunannya. Lalu apa yang dimiliki oleh si miskin? Ternyata dalam keseharian kita, sering dipertontonkan betapa tidak bahagianya orang-orang yang memiliki banyak uang. Kadang mereka makan saja susah, terlalu banyak pantangan, karena digerogoti berbagai penyakit. Lebih sedih lagi, pekerja uang ini sangat sibuk mencari uang, sampai tidak memiliki waktu untuk menggunakannya !.  Di sisi lain, kita juga sering melihat betapa bahagianya seorang yang hanya memiliki uang pas-pasan. Mereka bahagia, tenteram, dan sehat. Jadi, happiness has nothing to with the amount of money we have.

Rabu, 27 Maret 2013

Beberapa kekeliruan penanaman nilai kehidupan terhadap anak-anak


Sering kita melihat di jalanan, bagaimana orang tua dengan tenangnya melanggar lampu lalu lintas saat membawa anaknya berkendaraan. Pengendara sepeda motor lebih banyak melakukannya dibanding pengendara kendaraan roda empat. Dalam kesempatan lain, kita sering juga melihat bagai mana orang tua dengan enaknya menghardik dan memarahi sesuatu secara berlebihan di depan anak-anaknya ketika tidak puas atau merasa dilecehkan orang lain. Pernah kita mendengar bagaimana orang tua mendorong agar anaknya merasa berprestasi dengan cara ikut merekayasa prestasi tersebut dengan sepengetahuan anaknya. Masih banyak lagi kekeliruan yang dilakukan orang tua di hadapan anak-anaknya, dan lebih celaka lagi banyak yang memang secara sengaja dilakukan tanpa ada perasaan malu.
Sering juga kita melihat bagaimana guru-guru di sekolah dasar berbaris menunggui murid-muridnya datang di halaman sekolah. Ironisnya mereka menyalami murid-muridnya sambil ngobrol, sambil baca koran pagi, sambil sms-an, sambil menelpon tanpa melihat apalagi menatap mata murid-muridnya. Bersalaman menjadi rutinitas, tanpa makna. Murid-murid juga tahu kalau hal tersebut merupakan sesuatu yang harus dilewati agar sampai ke ruangan kelas.  

Sabtu, 23 Maret 2013

Jangan hindari sesuatu yang pahit


JIka anda merasakan sesuatu yang  pahit jangan langsung dibuang atau dimuntahkan. Bisa saja yang terasa pahit itu adalah obat untuk menyembuhkan penyakit. Banyak pil yang rasanya pahit, tetapi malah berfungsi sebagai obat. Daun pepaya atau kulit kina juga terasa pahit, tetapi punya kemampuan untuk menyembuhkan penyakit. Alam sebenarnya mengajarkan manusia agar tidak serta merta menolak sesuatu yang pahit. Demikian juga dengan kenyataan pahit yang dialami dalam persoalan bisnis dan kehidupan sehari-hari.  Kegagalan yang berulang dalam mencapai tujuan, kritikan pedas namun konstruktif yang diterima, atau kerugian dalam berbisinis merupakan model–model kepahitan yang memang harus terjadi dalam perjalanan hidup seseorang. Kesuksesan tidak dibangun dalam sekejap. Jika kesuksesan instan yang diperoleh, pastilah kesuksesan itu hanya akan berlangsung dalam waktu yang singkat.  Keberhasilan yang berkelanjutan dibangun dengan tempaan persoalan dan hambatan dalam rentang waktu yang cukup untuk mendewasakan seseorang dalam menjalankan tanggungjawab kehidupan. Jangan menganggap kenyataan pahit tersebut sebagai sesuatu yang merupakan akhir dari segalanya. Kenyataan yang tidak diinginkan sebenarnya merupakan kesempatan untuk mengevaluasi langkah-langkah yang telah ditempuh. Tidak perlu lantas berubah haluan dengan mengambil tindakan baru untuk meneruskan langkah yang telah menjadi tujuan.  Kata orang bijak, ada hikmah dibalik suatu kejadian, termasuk kejadian yang menimbulkan ‘kepahitan’ dalam kehidupan sehari-hari.

Selasa, 19 Maret 2013

Hindari Berteman dengan Koruptor


Sering kita melihat di televisi atau membaca di koran dimana seseorang sangat gigih menyerukan untuk berhenti melakukan korupsi, berteriak dan menyampaikan tentang akibat korupsi bagi moral dan integrasi bangsa. Sering kita juga tidak percaya karena ucapan yang disampaikan tidak sesuai dengan prilakunya, dan bahkan kadang lembaganya. Seorang koruptor berani merasa dirinya bersih ternyata sang koruptor memang (mungkin) tahu dan melihat bahwa banyak lagi koruptor lain yang lebih ‘hebat’ dalam korupsi. Ia berani bersikap sok bersih (mungkin) karena semata-mata apa yang dilakukannya masih lebih kecil dibanding apa yang dilakukan koruptor lain.  Prilaku ini muncul karena ia memang bergaul dengan koruptor, sehingga korupsi yang lebih kecil dari yang dilakukan lingkungannya tidak dianggap sebagai tindakan korupsi. You are what you see! Berteman dengan koruptor, pasti akan jadi koruptor. Paling tidak akan memaklumi tindakan korupsi. Hati-hati memilih teman atau kelompok sosial. 

Sebaiknya jangan bersahabat atau berteman dengan orang yang jelas-jelas melakukan tindakan korupsi, karena terjangkit prilaku korupsi itu. Korupsi itu menular, lebih berbahaya dari virus penyebab HIV sekalipun, atau narkoba sekali pun.  Sekali ‘terjangkit’, seseorang akan ketagihan untuk melakukannya, dengan cara apapun, tidak perduli waktu dan tempat. Sepanjang ada kesempatan untuk korupsi, dalam modus dan objek apapan, seorang koruptor pasti melakukannya.  Singkirkan koruptor yang ada di sekitar kita, tidak usah berteman dan bergaul dengan koruptor. Mungkin jika diacuhkan dan disingkirkan, (jika koruptor masih punya harga diri dan kebutuhan bersosialisasi) koruptor akan sadar bahwa apa yang dilakukannya tidak dapat diterima orang lain.

Minggu, 17 Maret 2013

Pecundang lebih Fokus pada Hak dibanding Kewajiban

Sangat sering kita bertemu dengan orang lebih memfokuskan dirinya pada haknya dibanding menjalankan kewajibannya. Padahal hak tersebut merupakan konsekwensi dari kewajiban yang dijalaninya.  Artinya hak akana muncul setelah seseorang menjalankan kewajiban. Memfokuskan diri pada hak dalam menjalankan pekerjaan hanya akan membuat seseorang kurang ikhlas dalam menjalankan pekerjaan, hanya akan membuat seseorang kurang konsentrasi dalam menjalankan pekerjaan, yang pada akhirnya akan menurunkan kualitas hasil pekerjaan.  Jika seseorang sudah sampai pada level ini, maka ia akan masuk dalam lingkaran dimana ia harus bekerja ekstra keras lagi untuk mencapai level kesempurnaan dalam menjalankan kewajibannya, karena harus mengkompensasi kemunduran kualitas pekerjaan yang diberikan. Jika berhasil kembali ke level yang diinginkan, maka sebaiknya seseorang tetap fokus pada kewajibannya. Jika tidak berhasil kembali memberikan kualitas yang diinginkan pemberi kerja maka ia akan memasuki lingkaran dimana ia akan sibuk dengan membela diri atas ketidakmampuannya menjalankan kewajibannya. Salah satu defensive expression yang diungkapkan adalah tentang haknya.  Sikap yang akan muncul adalah mempertanyakan haknya dari segala lini, menghabiskan energinya untuk menyampaikan beriita buruk tentang ketidakpuasannya terhadap majikannya.  
Berhentilah mempertanyakan hak kepada perusahaan anda, tanyakan apa yang sudah diperbuat untuk perusahaan. Jika memang dirasakan kurang diperlakukan dengan adil, lakukan tuntutan dengan cara dan prosedur yang benar dengan tetap tidak meninggalkan kewajiban. Selagi seseorang masih merupakan karyawan atau staf, atau anak buah, atau bahkan pimpinan sekalipun, seseorang tetap mempunyai kewajiban yang harus dijalankan.

Jumat, 15 Maret 2013

Kebijakan Pertanian yang Salah. Penyebab Harga Bawang Melambung


Kembali Indonesia dihadapi pada mahalnya harga bawang merah dan bawang putih. Lagi-lagi dikaitkan dengan impor. Data dari Kementrian Pertanian menunjukkan bahwa nilai impor bawang putih segar Indonesia pada tahun 2011 saaja mencapai USD 272,6 juta, lalu diikuti dengan bawang merah segar senilai USD 75,5 juta, dan bawang Bombay segar sebesar USD 32,1 juta.  Kecenderungan Indonesia untuk mengimpor banyak komoditas pertanian sebenarnya tidak terkait pada kemampuan petani untuk menghasilkannya. Secara teknologi petani Indonesia sangat menguasai bagaimana memproduksi bawang, jagung, kedele, padi, cabe, pisang.  Dan bahkana secara agroekologis produksi tanaman tersebut sangat mungkin untuk dilakukan.  Kalau tanaman yang memang secara agroekologis tidak mungkin atau sulit tumbuh di Indonesia masih diimpor, hal itu sangat dapat dimaklumi.  Tetapi mengimpor beberapa jenis tanaman pangan dan hortikultura yang disebutkan tadi, pasti bukan disebabkan oleh alasan agroekologis, ataupun oleh alasan ketidakmampuan petani dalam  menghasilkan komoditas tersebut.  Penyebabnya adalah kesalahan manajemen atau kebijakan impor produk-produk tersebut, dan ketidakseriusan pemerintah dalam menciptakan rantai agribisnis komoditas tersebut.

Kamis, 14 Maret 2013

Pragmatis, Tidak Selalu Menguntungkan

Mengambil keputusan bukan hanya domainnya para pemimpin saja, tetapi semua orang selalu dihadapkan pada situasi harus mengambil keputusan.  Salah satu pendekatan yang sering dilakukan orang dalam bertindak adalah pertimbangan pragmatis.  Bertindak pragmatis harus dilakukan secara tepat dan disesuaikan dengan kondisi pilihan yang tersedia. Tindakan pragmatis mungkin hanya bermanfaat ketika menghadapi pilihan-pilihan yang secara substansi tidak berbeda. Tetapi jika keputusan pragmatis digunakan pada saat harus menyelesaikan permasalahan yang bersifat dilematis, maka tindakan tersebut hanya akan mampu menunda penyelesaian persoalan, hanya akan memindahkan persoalan yang muncul, tanpa mampu menyelesaikan persoalan secara mendasar. Jadi, bertindak dan berfikir pragmatis tidak selalu menguntungkan. Bertindaklah dan ambilah keputusan dengan logis dan menyeluruh, meski hal tersebut melelahkan. 

Kamis, 07 Maret 2013

Communication skills are upgradeable things

Effective communication, both verbal and written, requires particular skills in delivering the messages. Knowledgeable authorities should not only have to master the content of communication, but also know how to make their listeners and readers understand the messages. Here are the classification of communication skills that might be used to evaluate the authority ability to deliver their messages.
1. Good in speaking, good in writing
2. Good in speaking, poor in writing
3. Poor in speaking, good in writing
4. Poor in speaking, poor in writing

Please check and find your communication ability. Someone belongs to the first group is a lucky and happy person. Nevertheless,  someone refers to the fourth group might be classified as an unhappy individual.  No need to worry, communication skills is an upgradeable thing.  Take a writing or speaking class will be a wise thing to do.

Selasa, 05 Maret 2013

Kesabaran : Kunci Sukses Mengelola Tekanan


Meskipun tidak selalu benar, watak seseorang sering muncul pada saat seseorang sedang berada dalam kondisi tertekan. Pragmatisme atau bahkan prilaku egois sering muncul pada saat ini.  Kondisi tertekan, apalagi menyangkut kepentingan diri, atau menyangkut harga diri sering mendorong seseorang untuk mengabaikan nilai-nilai kebenaran dan bahkan berprilaku destruktif terhadap orang lain.  Sedikit saja bersabar, atau mencoba untuk memahami tekanan yang dihadapi memungkinkan seseorang untuk tidak mengorbankan nilai-nilai hakiki kemanusiaan.  Jika tidak mampu mengelola kondisi tertekan dengan biaik, seseorang tidak hanya akan merugikan orang lain dan diri sendiri, tapi membuat seseorang kelihatan bodoh.

Jumat, 01 Maret 2013

Landasan Persahabatan

Persahabatan merupakan sebuah anugerah yang sangat berarti bagi setiap orang. Persahabatan memberikan keceriaan dalam keseharian seseorang. Begitulah persahabatan itu semestinya.  Dari seluruh orang yang kita kenal, mungkin hanya sepuluh persen yang benar-benar merupakan sahabat. Selebihnya mungkin hanya sekadar merepotkan. Tapi itulah realita kehidupan !.  Persahabatan sejati tidak dijalin atas dasar kepentingan sesaat, uang dan bisnis. Jika hal tersebut yang merupakan dasarnya, maka persahabatan itu hanya ada selama kepentingan, uang dan bisnis itu ada.  Ketika ketiganya tiada, maka persahabatanpun hilang ditelan keadaan dan ternyata semua yang pernah terjadi dalam persahabatan itu hanya merupakan basa basi belaka.  Sejatinya persahabatan itu dilandasi oleh kesamaan nilai, yakni nilai kebenaran, nilai kemanusiaan, nilai akidah untuk kebaikan dan kebahagiaan bersama.  Karena landasan-landasan tersebut merupakan nilai-nilai yang menjadi semangat dan visi persahabatan serta tidak akan pernah hilang, maka persahabatan itu tidak akan pernah hilang.  Persahabatan yang akan terjadi tidak akan saling mengeksploitasi, tetapi akan saling membesarkan dalam satu ideologi kebenaran, kemanusiaan dan akidah untuk kebaikan dan kebahagiaan bersama.